Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Pimpinan Ponpes Lintang Songo, Bantul Heri Kuswanto, Padukan Kurikulum Keagaman dan Penguatan Keterampilan

Cintia Yuliani • Minggu, 2 November 2025 | 15:00 WIB

 

MENGABDI: Pimpinan Ponpes Lintang Songo Heri Kuswanto yang tidak pernah mebebankan biaya pendidikan kepada para santrinya.
MENGABDI: Pimpinan Ponpes Lintang Songo Heri Kuswanto yang tidak pernah mebebankan biaya pendidikan kepada para santrinya.

BANTUL - Nama Kiai Heri Kuswanto tidak asing bagi kalangan pegiat pendidikan pesantren berbasis kemandirian. Pimpinan Pondok Pesantren Lintang Songo, Srimulyo, Piyungan ini mulai merintis lembaga pendidikannya sejak 2006.

Pesantren itu dibangun dari kegelisahan akan jurang antara pengetahuan umum dan keagamaan. “Banyak anak muda kuliah manajemen, kedokteran, teknik, pinter umum, tapi tidak tahu agama. Sebaliknya, banyak yang hafal Alquran dan kitab kuning tetapi tidak paham cara mencari penghidupan,” tuturnya saat ditemui lahan pertanian Pondok Pesantren Lintang Songo Kamis (30/10).

Dari situ, visi pesantren dirumuskan mencetak generasi berilmu agama, berakhlak, dan mampu mandiri secara ekonomi. Kurikulum keagamaan berjalan berdampingan dengan penguatan keterampilan hidup.

Hanya saja, Fikih, akidah, akhlak, sirah nabawiyah, dan Alquran tetap menjadi inti. Yang menjadi pembeda, santri tetap dilibatkan dalam pengelolaan sawah, kebun, perikanan, peternakan, dan home industry.

Di lahan pertanian milik pesantren, lanjutnya, santri ikut menanam padi, cabai, kangkung, terong, dan berbagai sayur kebutuhan dapur harian. Pun dengan mengelola dan mengembangkan kolam ikan.

Begitu pula di bidang peternakan. Kini, kambing hampir mencapai seratus ekor. Saat menjelang Idul Adha, sapi ikut dipelihara. Santri juga membuat aneka camilan, roti, hingga sabun cuci piring dan sabun mandi.

Hasilnya bukan untuk komersial masif. Namun untuk memastikan kebutuhan pesantren tercukupi. “Kita tidak menghitung pendapatan. Yang penting cukup. Nasinya dari sawah, sayurnya dari kebun, ikannya dari kolam. Itu sudah rizki,” bebernya.

Pesantren ini juga bebas biaya. Santri yang datang dari Aceh, Riau, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, hingga NTT mayoritas yatim dan duafa. Selain itu, mereka berasal dari latar kehidupan sosial yang berat.

“Yang penting mereka mau belajar. Kita tidak menarik biaya sepeser pun.”

Dia menyebut, Lintang Songo bukan pesantren hukuman atau sistem disiplin keras. Banyak santri datang dengan latar hidup yang rumit. Seperti depresi, mantan geng, pengguna narkoba, hingga eks pelaku kriminal.

“Pendekatannya penyadaran, bukan memaksa. Kita ajak ke sawah dulu, ke kolam dulu. Agama pelan-pelan masuk,” katanya.

Pengembangan pesantren berjalan tanpa kampanye donasi atau brosur pendaftaran. Santri datang melalui kabar dari mulut ke mulut. Begitu pula bantuan. Ada kalanya sembako datang dari komunitas, donatur tak dikenal, bahkan institusi pemerintah.

“Kita tidak pernah meminta. Tapi pasti datang. Cukup selalu ada,” katanya.

Selain memimpin pesantren, Kiai Heri juga ketua senat Institut Ilmu Alquran An-Nur. Sebelumnya ia mengabdi sebagai dosen sejak 1989, menjadi wakil rektor selama 26 tahun, lalu menjabat rektor selama 12 tahun.

Ia mengajar hingga 12 mata kuliah. Mulai sosiologi agama, fikih munakahat, antropologi pesantren, hingga kewirausahaan. “Belajar itu tidak berhenti sampai kapan pun," katanya.

Namun menurutnya, masa muda adalah musim semi kehidupan. Fase tersebut merupakan waktu paling ideal untuk merintis usaha, bekerja, dan membangun karya. Karena itu ia mendorong santri untuk berani memulai sesuatu sejak dini. Tidak hanya menunggu kesempatan datang.

Dia pun mengaku, sudah belajar ilmu agama, wirausaha, hingga pertanian sejak usia muda. Meskipun dia bukan pelajar yang ikut mengenyam ilmu di pondok pesantren. Dia hanya ikut berkunjung ke beberapa pondok semasa SMA. "Karena ekonomi dan saudara saya banyak, jadi nggak mondok," katanya. (cin/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pondok pesantren #keagamaan #ponpes #Bantul #Piyungan #Pondok Pesantren Lintang Songo #Heri Kuswanto #Ponpes Lintang Songo #santri