Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Sekadar Dibuang, 29 Macam Sampah di Ponpes Ali Maksum Jadi Sumber Cuan dan Memiliki Nilai Manfaat

Cintia Yuliani • Rabu, 1 Oktober 2025 | 04:00 WIB

 

KREATIF: Santri Pondok Pesantren Ali Maksum sedang membuat biogas dari sampah organik di ex Rumah Sakit Umum Veteran Patmasuri Selasa (30/9).
KREATIF: Santri Pondok Pesantren Ali Maksum sedang membuat biogas dari sampah organik di ex Rumah Sakit Umum Veteran Patmasuri Selasa (30/9).

BANTUL - Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon berhasil menunjukkan sampah bukan lagi masalah. Justru, dari tangan para pengurus pondok pesantren dan santri, 29 jenis sampah bisa berubah menjadi sumber manfaat dan bernilai ekonomi tinggi.

Awalnya, pesantren ini harus merogoh kocek hingga Rp 12 juta setiap bulan hanya untuk membayar jasa angkut sampah. Volume sampah pun menumpuk hingga dua ton per hari. Kini, setelah mampu mengelola sendiri, biaya itu menjadi nol rupiah. Jumlah sampah juga berkurang drastis menjadi hanya 100 kilogram per hari.

“Jadi kita punya prinsip, sampah hari ini selesai hari ini juga,” ujar Direktur Krapyak Peduli Sampah Andika Muhammad Nuur ditemui Selasa (30/9).

Gagasan pengelolaan sampah ini muncul 2023. Saat itu, dia melihat ada tungku pembakaran medis di belakang Rumah Sakit Umum Veteran Patmasuri yang sudah tak terpakai. Kemudian disewa oleh pondok dan dijadikan tempat pengelolaan sampah mandiri.

“Saya iseng bakar sampah daur di situ, padahal sampah plastik yang biasanya ada asapnya, ternyata tidak ada asapnya,” jelasnya.

Dari situ muncul kesadaran semakin tinggi kadar api, semakin sedikit asap yang keluar. Ide itu berkembang menjadi inovasi berkelanjutan. Dia mulai membedakan antara sampah organik dan non-organik. Pemilahan membuat proses pembakaran lebih ringan karena tidak bercampur dengan sampah basah.

Hasilnya, pesantren bisa menjual rosok untuk membeli ayam, kambing, dan mentok. Hewan-hewan itu sekaligus menjadi bagian dari rantai ekosistem karena memakan sisa makanan.

Kini, ada 29 macam-macam sampah berhasil diolah menjadi barang yang bermanfaat. Seperti dari plastik kresek, plastik transparan, plastik multilayer, plastik keras, mika, botol plastik, botol kaca, alumunium, besi, penahan kaca, styrofom, kaleng, tisu, kertas putih, kertas non-putih, skincare, kertas minyak, alat mandi, baju bekas, duplek, sandal, karton, kapas, sedotan, tutup botol, pembalut, dan sampah organik. Semuanya disulap menjadi produk bernilai jual.

“Misalnya saja pembalut, kapasnya bisa menjadi media tanam untuk membantu akar menyimpan kadar air,” katanya.

 

Selain itu, plastik multilayer diubah jadi sandal dan gantungan kunci. Limbah kaca jadi lilin mini, hingga kaligrafi dari plastik. Bahkan, ecobrick diproses jadi kursi. “Satu tempat duduk dari ecobrick saya jual Rp 250 ribu, modalnya cuma Rp 30 ribu,” ujarnya.

Produk biogas, pupuk kandang, hingga pakan ikan juga dihasilkan dari sampah organik. Sisa makanan jadi pakan ternak dan pelet, kotoran kambing jadi pupuk, sementara rumen sapi usai Idul adha dimanfaatkan menjadi EE4 untuk mempercepat fermentasi pupuk. “Semua jenis sampah bisa diolah di pondok pesantren,” tegasnya.

Pengelolaan ini melibatkan seluruh santri. Setiap anak wajib memilah sampahnya sendiri. Bahkan, ada sistem reward and punishment. Asrama yang tertib memilah mendapat uang, sedangkan yang tidak disiplin mendapat sanksi sosial berupa penolakan pengambilan sampah.

“Awalnya lumayan susah butuh waktu tiga bulan untuk merubah kebiasaan para santri untuk memilah sampah,” jelasnya.

Kantin pesantren juga menekan penggunaan plastik. Santri membawa wadah sendiri untuk membeli makanan atau minuman.

Dia berharap, gerakan serupa juga bisa ditiru oleh pondok pesantren lain. Selain itu, masyarakat pun harus mengelola sampah secara mandiri. “Wong saya bisa mengubah kebiasaan di pondok ini, masa yang lain tidak bisa,” lontarnya. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#sampah organik #pondok pesantren Ali Maksum Krapyak #Sampah #plastik #sewon #Panggungharjo #organik #santri