BANTUL - Buku berjudul “Rumah Ini Tak Lagi Sama” karya Urfa Qurrota Ainy mengisahkan tentang duka setelah karena ditinggalkan orang tercinta. Namun di balik rasa duka itu timbul semangat hidup. Bangkit kembali menjalani kehidupan melalui sebuah tulisan.
“Buku ini bisa inspirasi bagi orang-orang yang tengah menghadapi kedukaan. Sebab, kedukaaan tidak hanya berkutat kehilangan orang yang dicintai. Namun kehilangan pekerjaan atau kehilangan hewan peliharaan juga bentuk kedukaan,” ucap Ulfa saat Bedah Buku Koleksi Perpustakaan yang diselenggarakan di halaman Grahatama Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Kamis (11/9).
Bedah buku itu bagian dari upaya promosi kepada masyarakat DIY melalui dana alokasi khusus (DAK) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kegiatan itu juga bersamaan dengan Festival Literasi Jogja Book Fair (JBF) 2025.
Urfa mengatakan, buku karya itu merupakan kisah hidupnya ketika ditinggal orang tuanya. Dalam buku tersebut diulas bagaimana dirinya bisa bangkit menghadapi duka. Kehilangan orang yang dicintai.
“Kehilangan orang tua, sebuah rumah menjadi tidak sama. Sangat berbeda sekali. Saya berharap ketika menulis buku ini setiap kata bisa menjadi pahala bagi ayah saya,” ujarnya.
Dia menulis buku itu pada 2023 lalu. Atau dua tahun pascaayahnya meninggal. Buku tersebut menjadi bentuk ekspresi menghadapi duka lewat tulisan. Prosesnya bukan hal yang mudah. Urfa harus kembali membuka memori duka yang selama ini dipendam.
“Kami menulis buku ini bukan hanya tentang kedukaan. Tapi harapan agar semua orang tetap punya semangat melanjutkan hidup,” harap Urfa.
Bedah buku juga menghadirkan Psikolog Klinis Lya Fahmi sebagai narasumber. Acara dipandu moderator Wanda Ramadhani dari Buku Mojok sebagai moderator.
Lya Fahmi menilai, melepaskan rasa duka memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan berbagai upaya dan waktu yang tidak sebentar agar bisa kembali bersemangat menjalani hidup. Dikatakan, kedukaan merupakan salah bentuk emosi yang dialami manusia. Mengelola emosi menjadi salah satu metode penting menghadapi kedukaan. Sejatinya emosi hadir untuk memberikan pesan agar seseorang bisa menghadapi kenyataan.
"Emosi memberikan pesan yang memberitahu apa yang terjadi dalam kehidupan kita,” jelasnya.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY Zulfa Kurniawan berharap, lewat bedah buku dapat memberikan sudut pandang baru. Khususnya bagi pembaca buku Rumah Ini Tak Lagi Sama. “Semoga dengan kegiatan bedah buku ini bisa memberikan POV dari sisi penulis,” katanya. (inu/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita