Di balik operasional insineratornya, terdapat upaya untuk mengolah residu hasil pembakaran menjadi media tanam yang bermanfaat.
Wakil General Manajer Mohammad Imam Santoso, 49, Manajer ITF Bawuran, juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar.
Selain memproses sampah, ITF Bawuran menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Abunya itu, sisa dari insenerasi, kami olah jadi media tanam. Dicampur organik, tanah, dan kotoran hewan, lalu difermentasi,” ujarnya saat ditemui di ITF Bawuran Jumat (18/7).
Proses ini memakan waktu sekitar satu bulan, dan hasilnya digunakan untuk penghijauan kawasan sekitar.
“Biasanya untuk menanam cabai, tanaman pagar, dan lainnya,” tambahnya.
Insinerasi di ITF Bawuran menghasilkan tiga jenis sisa Fly Ash and Bottom Ash (FABA) Abu halus dari fly ash inilah yang diproses lebih lanjut.
“Kalau kita ayak dan campur dengan bahan alami, itu jadi tanah gembur berkualitas,” jelasnya.
Dengan dukungan dari Pemkot dan skema kolaborasi tanpa pungutan sampah, ITF Bawuran memegang teguh prinsip olah dan pilah.
Tak hanya sekadar membakar, mereka memilah dan mengelola sampah bernilai untuk dijual kembali.
Dari sekitar 10 ton sampah per hari, 1 sampai 3 ton dapat dipilah menjadi bahan berguna seperti biji plastik.
Menariknya, ITF Bawuran tidak hanya mengelola sampah secara teknis, tapi juga membangun ekosistem alami.
Kini terdapat 50 ekor ayam yang membantu mengurai sisa sampah organik Yang ada di ITF Bawuran.
Mereka bahkan tengah merintis budidaya ulat Hongkong yang akan mengurai limbah kertas atau residu ringan.
Tak ketinggalan, rencana pelibatan kambing atau sapi untuk mengelola sisa pertanian dan organik juga sedang dijajaki.
Selain itu, ITF Bawuran membuka pintu lebar-lebar bagi dunia pendidikan.
Mereka tengah menjajaki kolaborasi dengan berbagai kampus dan lembaga penelitian.
“Kami ingin kampus tidak hanya tertarik pada teknologi pembakaran, tapi juga sisi sosial, manajemen, dan ekonomi dari sampah,” jelasnya..
Teknologi insinerasi yang digunakan pun karya lokal, dibuat oleh anak bangsa dari Surabaya.
Ia mengaku bangga karena teknologi dan alat yang digunakan adalah buatan lokal.
Dengan semua proses ini, ITF Bawuran membuktikan pengelolaan sampah bisa lebih dari sekadar buang dan bakar.
Dari abu, tanah bisa kembali subur. Dari limbah, lahir peluang. Dari pekerjaan kasar, muncul kehidupan yang bermartabat.
“Kami hanya ingin menunjukan sampah itu bukan masalah, tapi peluang. Asal dikelola dengan serius, berkelanjutan, dan inklusif,” tutupnya. (Cr2)
Editor : Bahana.