BANTUL - Keracunan yang terjadi oleh puluhan anak di Gilangharjo, Pandak, usai mengonsumsi menu takjil saat buka bersama (bukber), awalnya dianggap biasa oleh warga yang keluarganya terdampak keracunan.
Pasalnya, meskipun muntah-muntah dianggapnya sekadar masuk angin biasa. Warga Jodog Marsid Husni mengungkapkan, ada dua cucunya yang makan takjilan rice bowl itu dan sempat dibawa ke dokter anak dan ke RS UII.
“Hari Sabtu belum ada yang tau kena racun. Senin baru ketahuan,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun pada hari Minggu sudah ada yang terdampak keracunan, tetapi masih dianggap masuk angin.
Sejumlah warga ada yang kerokan ketika itu karena belum mengetahui keracunan. Indikasi keracunan mulai diketahui karena ada gejala yang sama dialami oleh kalangan anak-anak.
Pria 67 tahun ini menuturkan, pada Senin sore membuat daftar list di grup WhatsApp kampung dan yang mendata sampai 20-an orang.
“Cucu saya Minggu malam mau tarawih langsung brek tiduran lemas. Itu gejalanya gitu semua,” tuturnya. Dua cucunya yang keracunan usia lima dan tujuh tahun, kini kondisinya membaik.
Namun memang belum masuk sekolah dan tetap mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan dokter.
Husni sendiri melihat langsung cucunya makan rice bowl itu karena makannya di rumah usai diberikan dari masjid.
Dia menuturkan, mulai pasti diketahui keracunan usai keluarnya hasil laboratorium dari puskesmas.
Menurutnya, memang takjilan itu menjadi kegiatan yang ada di Masjid Al-Ichsan. Biasanya warga swadaya secara berkelompok untuk menyediakan menu takjil. “Kadang ada yang bikin sendiri dan pesan katering.
Kemarin itu katering,” tuturnya. Bahkan sampai Selasa (18/3/2025) pun masih ada orang yang terasa keracunan tetapi sebelumnya belum terasa.
Sementara itu, ada juga orang tua lainnya yang anaknya mengalami efek keracunan. Ifah Rohana anaknya sampai muntah-muntah dan kondisinya sangat lemas pada Minggu malam.
Gejalanya dimulai sejak sore hari dan semakin malam malah terus parah kondisinya.
“Pagi langsung dibawa klinik dan siangnya ke RS UII,” tuturnya.
Perempuan yang biasa disapa Ifah itu mengungkapkan, saat di RS UII anaknya boleh pulang atau dirawat inap.
Namun, dia memutuskan anaknya untuk pulang saja dan kini kondisinya sudah membaik.
Dia menceritakan, saat Minggu malam kondisi anaknya sangat parah seperti orang teler habis mabok.
Muntah dari mulutnya terus-terusan ke luar dan tubuhnya melemas. Dia pun awalnya hanya mengira masuk angin biasa, baru pas saat ada pendataan di grup WA, disadarinya keracunan karena gejala di sejumlah anak dialami sama.
“Kateringnya itu pesan dari Sewon,” tuturnya. (rul/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita