BANTUL – Pemerintah Kabupaten Bantul menutup Pasar Hewan Imogiri mulai hari ini, Selasa (14/1/2025) hingga 14 hari ke depan.
Keputusan tersebut dipilih Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul untuk menekan angka sebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap sapi.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo menyebut, Pasar Imogiri ditutup lantaran mayoritas menjadi sentra jual beli sapi dari berbagai daerah.
Sedangkan di sejumlah pasar hewan lainnya cenderung menjual kambing.
"Harapannya penutupan ini dapat menekan penyebaran PMK," ungkap Joko, Selasa (14/1/2025).
Sebelum Pasar Imogiri ditutup, lebih dulu disemprotkan cairan disinfektan agar tetap higienis.
“Kami nanti dapat obat dan disinfektan dari belanja tidak terduga (BTT),” katanya, Selasa (14/1/2025).
Namun, besarannya belum dapat disampaikan karena sekarang masih dalam pengajuan.
Sementara ini, data terakhir ada 322 sapi yang terkena PMK, 32 ekor mati, dan dua ekor dipotong paksa.
Kendati ada penutupan pasar ini belum dijadikan sebagai kejadian luar biasa.
Keputusan ini menuai tanggapan serius dari kalangan pedagang dan peternak sapi.
Seperti di antaranya yang diutarakan oleh Sari Nuryadi.
Peternak yang juga nyambi penjual sapi dari Selopamioro, Imogiri itu merasa keberatan adanya penutupan pasar.
Itu lantaran sangat berdampak kepada warga yang menggantungkan hidup sehari-harinya dari pasar.
“Apalagi ditutupnya sekonyong-konyong tanpa ada pemberitahuan dahulu secara rinci,” tuturnya.
Pria berusia 55 tahun itu mengungkapkan tidak ada sosialisasi dari Pemkab Bantul untuk penutupan Pasar Hewan Imogiri.
Disaat yang bersamaan, penutupan ini tidak dibarengi dengan solusi yang membantu pedagang sapi.
Dia membenarkan penutupan ini sebagai antisipasi wabah PMK pada sapi di Bantul.
Namun keputusan ini tumpang tindih karena roda perekonomian di kalangan peternak dan penjual sapi tidak jalan.
Pasalnya, Pasar Hewan Imogiri sudah menjadi sandaran dalam transaksi jual dan beli sapi di Bantul.
Dia berharap, semestinya ada pendataaan pedagang Pasar Hewan Imogiri asli Bantul.
“Agar diberikan subsidi sebagaimana pantasnya berupa uang sehingga pedagang tidak terlalu risau karena penutupan pasar,” bebernya.
Penutupan tentunya membuat pemasukannya terhenti sementara.
Hal senada pun disampaikan peternak sapi lainnya yakni Santoso.
Pria berusia 32 tahun tersebut mengungkapkan, belum banyak pelaku jual beli sapi secara online.
Kondisi tersebut pun membuat peternak asal Seloharjo, Pundong tersebut membuat kelimpungan bukan main.
"Pasar Hewan Imogiri tutup ya mumet, karena aktivitas jual beli tidak ada,” tegasnya.
Sementara itu Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengaku belum memikirkan terkait ganti rugi terhadap peternak yang sapinya mati karena PMK.
Itu lantaran penyebarannya yang begitu cepat sehingga sekarang terfokus untuk menekan terlebih dahulu dengan penutupan pasar.
Dia pun meminta untuk mohon dimaklumi dan meminta maaf terhadap para pedagang sapi atas penutupan pasar hewan.
“Tujuannya agar penyebaran PMK dapat diminimalisir,” ungkapnya. (rul)