BANTUL - Dana operasional sekolah atau disingkat dana BOS di Kabupaten Bantul belum semua cair. Belasan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sanggar kegiatan belajar (SKB) sekarang masih berada dalam daftar tunggu pencairan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul Titik Sunarti mengkonfirmasi hal tersebut.
"SD dan SMP sudah (cair), tinggal 11 PAUD dan satu SKB termin kedua (belum pencairan)," kata Titik Sunarti pada Rabu (30/10/2024).
Pihaknya memastikan realisasi dana BOS terhadap belasan sekolah itu dapat terlaksana dalam waktu dekat.
"Tidak ada kendala hanya pencairan per gelombang. Ini gelombang 4, sudah masuk daftar tunggu," ucapnya.
Sementara itu Kepala Disdikpora Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto mengatakan jumlah penerima dana BOS dari tahun ke tahun tidak sama.
"Diantaranya karena jumlah siswa fluktuatif," kata Nugroho Eko Setyanto.
Dia merinci, BOSP 2024 bagi Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Swasta Rp 940.000 per siswa.
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan Swasta Rp 1.150.000 per siswa
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Rp 630.000 per siswa.
Sementara BOSDA, dana yang dialokasikan mencakupTaman Kanak-Kanak Negeri (TKN) Rp 600.000 per siswa,
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rp 550.000 per siswa.
Sekolah Dasar Swasta Rp 322.500 per siswa
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Rp 650.000 per siswa.
Sekolah Menengah Pertama Swasta dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) Rp 278.300 per siswa.
Nugroho menyebutkan bahwa total alokasi BOSDA 2023 mencapai Rp 56.678.327.900 dan tahun ini Rp 57.477.206.400. Di sisi lain, total BOSP tahun lalu tercatat sebesar Rp 134.730.560.000, dan pada 2024, mencapai Rp 134.774.205.183.
Terpisah pengelola dana BOS di SMPN 1 Bantul Fahrurozi menyampaikan dana BOS dari pusat maupun daerah untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa.
"Dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, perlu sokongan anggaran lain," kata Fahrurozi. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin