RADAR JOGJA – Nasib tragis SMP swasta di Kabupaten Bantul terus berlanjut. Itu karena sulitnya mendapatkan siswa setiap tahun ajaran baru dimulai. Termasuk pada tahun ajaran baru 2024-2025 ini. Di Bantul ada 49 SMP swasta yang tersebar di 17 kapanewon dengan daya tampung 7300 siswa.
Beberapa tahun terakhir, untuk memenuhi daya tampung sebanyak itu sangat sulit dilakukan.Memang pada tahun ajaran baru ini lulusan SD mencapai 13.865 orang. Dari jumlah itu, SMP swasta harus berebut dengan SMP negeri. Daya tampung di SMP negeri mencapai 8.640 siswa. Itu artinya 49 SMP swasta hanya kebagian 5.045 siswa ketika daya tampung di sekolah negeri terisi semua.
Ketua Paguyuban Kepala SMP Swasta Bantul Barmawi mengungkapkan, tahun ini mengalami penurunan siswa dibanding tahun lalu. Pada 2023 lalu SMP swasta di Bantul menerima sekitar 6.500an siswa. Tahun ini hanya sekitar 6.000. Jumlah itu pun persebaran siswanya tidak merata.
Kondisi itu menimbulkan ada sejumlah SMP swasta yang meningkat jumlah siswanya tetapi ada yang menurunnya sangat drastis. Namun, dikatakannya kenaikannya tidak begitu tinggi hanya sedikit saja.”Mayoritas SMP swasta mengalami penurunan jumlah siswa hingga 20 sekolah,”jelasnya.
Misalnya di SMP Muhammadiyah Jetis yang tahun lalu mendapat 15 siswa. Tahun ini hanya sembilan siswa. Kondisi ini tentu sangat rentan bagi para penyelenggara pendidikan swasta di Bantul. Itu lantaran ketika situasi tidak berubah bukan hal yang tidak mungkin satuan pendidikan SMP swasta harus berhenti beroperasi.
“Kalau dua tahun berturut-turut tidak dapat siswa tahun ketiga sulit untuk bangkit,”ucapnya. Barmawi memastikan, kalau kondisi tersebut terjadi kemungkinan besar operasional sekolah tersebut harus tutup. Menurutnya kondisi tersebut menyengsarakan gurunya yang tidak mendapat waktu mengajar.
Selain itu, meski PPDB sudah selesai sejak beberapa bulan lalu bagi SMP negeri tidak berlaku bagi kalangan sekolah swasta. Sampai sekarang SMP swasta masih dapat menerima siswa baik untuk pindahan atau kasus lainnya. Itu dilakukan untuk menambah jumlah siswa.
Penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal mengungkapkan, banyak faktor yang mengakibatkan kekurangan siswa di SMP swasta. Satu di antaranya ada anggapan tidak ada perbedaan antara sekolah swasta dan negeri. Seharusnya SMP swasta harus menonjolkan kekhasannya seperti misalnya berbasi religi seperti sekolah Islam Terpadu atau IT.
Menurutnya banyaknya dana BOS yang dimiliki SMP negeri dibanding swasta sehingga akan berdampak pada kualitas pelayanan lebih baik di negeri. Karena itu pemerintah dan yayasan harus duduk bersama. Selain itu pemerintah harus memperhatikan sekolah swasta, karena juga menjadi tanggung jawabnya. (rul/din).