BANTUL – Kalangan pengusaha mulai ketar-ketir menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi beberapa hari terakhir.
Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS tercatat pada level Rp 16.200 pada Rabu (17/4/2024).
Nilai tukar rupiah melemah 83 poin. Di mana, sebelumnya pada penutupan Selasa (16/4/2024), nilai tukar rupiah di level Rp 16.175.
Kalangan eksportir melihat pelemahan rupiah ini sangat dirasakan. Terutama bagi pelaku usaha yang bahan baku produksinya didominasi produk impor.
Pemilik CV Woodeco Indonesia Agung Setiawan mengatakan, menguatnya dolar AS apabila terkait dengan selisih kurs maka pengusaha diuntungkan.
Namun, hal itu justru bahaya karena buyer tidak akan bisa menjual barang lantaran terlalu tinggi di negaranya.
“Range keuntungan menjadi sedikit. Kemudian kalau ini berlanjut hingga dua atau tiga hari ke depan, buyer yang akan order di pekan ini akan menunda pemesanannya,” ujarnya kepada Radar Jogja, Rabu (17/4/2024).
Hanya saja, pengusaha bisa mendapat untung kalau barang yang sudah diproduksi dan telah dikirim karena selisih kursnya.
Namun, apabila barang produksi belum terkirim, buyer justru menunda pembelian. Sebab, buyer tidak bisa menjualnya di negara asalnya karena terlalu tinggi harganya.
“Nanti dikirim lagi setelah membaik, banyak kasus seperti itu,” kata Agung.
Menurutnya, jika dolar AS tidak terkendali, maka buyer akan menunda pembelian.
Agung mengakui, pada Rabu (17/4/2024) ada buyer yang menunda pembelian produknya. Padahal sebelumnya sudah deal.
“Hari ini ngabari kalau belum bisa DP karena situasi sedang tidak baik, dia meminta waktu. Buyer dari Australia, padahal dia order satu kontainer,” ungkap Agung.
Penundaan pembelian dan pengiriman tersebut membuat pengusaha merugi.
Sebab, barang telah selesai diproduksi dan hendak dikirim, namun justru ditunda. Hal itu membuat cash flow perusahaan terganggu.
“Karena misalnya DP cuma 50 persen, masih ada 50 persen lagi yang harus mereka (buyer) tanggung,” ucap Agung.
Sementara untuk pengaruh terhadap bahan baku utama produksi, Agung menyebut tidak ada masalah. Karena bahan baku berasal dari dalam negeri.
Namun, kalau bahan produksi ada yang impor, hal itu jelas mengganggu produksi dan menaikkan cost produksi.
“Karena di beberapa barang impor diproduksi untuk dijual ekspor lagi,” ujar Agung,
Ia sendiri memperkirakan, dua atau tiga bulan ke depan, barang-barang penunjang seperti lem, paku, cat dan amplas juga ikut naik harganya. Sekitar lima hingga 10 persen.
Hal itu akibat melemahnya rupiah terhadap dolar AS. “Itu bisa berbahaya bagi produksi,” lontarnya.
Perusahaan yang digawanginya sendiri bergerak di bidang kerajinan berbahan dasar kayu, bambu dan rotan.
Barang produksinya rutin diekspor rutin ke Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Prancis.
Agung berharap pemerintah bisa mengendalikan kurs dolar AS terhadap rupiah. Terutama Bank Indonesia yang memiliki kewenangan dan kebijakan terkait hal itu.
“Harapan kami idealnya dolar AS berada di bawah Rp 15 ribu. Itu aman, baik dari eksportir dan importir atau buyer,” harapnya.
Ia juga meminta pemerintah untuk menjaga inflasi. Sebab, inflasi dapat mempengaruhi harga kebutuhan pokok.
Meskipun, perusahaannya tidak memproduksi bahan pokok. Namun, hal itu juga berpengaruh kepada para eksportir.
“Karena kalau harga kebutuhan pokok naik, otomatis gaji karyawan juga naik, cost produksi ikut naik. Semua ada keterkaitan,” katanya.
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul memandang bahwa ada pengaruh melemahnya rupiah terhadap dolar AS terhadap pelaku ekspor di Bantul.
Transaksi ekspor yang akan dilakukan ke depan akan melakukan penyesuaian terhadap nilai rupiah dan dolar AS. Ada kalkulasi terkait biaya dan harga produk.
Sementara untuk kegiatan ekspor saat ini diklaim masih aman. Karena proses ekspor sudah dilakukan dua atau tiga bulan sebelum proses pengiriman akhir.
"Mungkin untuk ekspor yang ke depan perlu dilakukan penyesuaian. Mudah-mudahan nanti kecenderungan rupiahnya sudah semakin membaik,” tandas Husin. (tyo)
Editor : Amin Surachmad