BANTUL – Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi pada Kamis (14/3) sore mengakibatkan pohon tumbang yang terjadi di 15 kapanewon di wilayah Kabupaten Bantul.
Kejadian itu juga mengakibatkan kerugian materiil dan seorang warga mengalami luka berat akibat terjatuh saat mengevakuasi pohon tumbang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi mulai pukul 15.55 tersebut mengakibatkan 175 kejadian pohon tumbang dan dua kejadian angin kencang. Tersebar di 43 kalurahan.
Adapun 15 kapanewon yang terdampak pohon tumbang itu meliputi Bambanglipuro, Bantul, Dlingo, Imogiri, Jetis, Kasihan, Kretek, Pajangan, Pandak, Pleret, Pundong, Sanden, Sedayu, Sewon, dan Srandakan.
Sementara kejadian pohon tumbang terbanyak berada di Kapanewon Imogiri dengan 32 kejadian. Di mana 24 kejadian di antaranya berada di Kalurahan Wukirsari.
Pohon tumbang ini menimbulkan puluhan akses jalan di Kabupaten Bantul tertutup.
Kemudian rumah warung angkringan dan kandang sapi mengalami kerusakan. Serta jaringan kabel listrik terputus.
"Akibat pohon tumbang dan angin kencang tersebut, ada 70 titik rumah, 3 titik tempat usaha, 46 titik jalan, 29 titik jaringan listrik dan 1 titik jaringan telkom terdampak," kata Antoni, Jumat (15/3).
Peristiwa cuaca ekstrem tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, ada seorang warga mengalami luka yang cukup serius.
Akibat terjatuh saat mengevakuasi pohon tumbang.
Korban bernama Eri Priyanto, 37, warga Padukuhan Banaran, Kalurahan Sumberagung, Jetis mengalami patah tulang belakang.
Ia mendapatkan perawatan intensif di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
"Korban terjatuh saat mengevakuasi pohon tumbang, mengalami luka patah tulang belakang," jelas Antoni.
Antoni menuturkan, sejumlh unsur terlibat dalam melakukan evakuasi akibat kejadian pohon tumbang.
Seperti BPBD Bantul, forum pengurangan resiko bencana (FPRB) kalurahan, Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul, sukarelawan dan warga.
"Tidak ada tantangan dan kendala yang dihadapi dalam penanganan," kata Antoni.
Ia berharap agar semua elemen masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi kejadian. Baik pohon tumbang maupun ancaman kejadian lainnya.
“Akibat dampak cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang,” ujarnya.
Cuaca ekstrem sendiri diprediksi akan berlangsung hingga Sabtu (16/3). Hal itu berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta yang memprediksi cuaca ekstrem terjadi mulai 14 hingga 16 Maret 2024.
“Cuaca ekstrem itu berupa potensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang,” tandasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad