BANTUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul akan menggarap rencana pengembangan Bukit Dermo pada tahun 2024.
Meski begitu, alokasi anggaran yang dikucurkan tahun ini lebih sedikit daripada awal perencanaan. Sehingga Pemkab Bantul tengah melakukan penyesuaian detail engineering design (DED).
Sekretaris Daerah Bantul Agus Budiraharja mengatakan, rencana pembangunan Bukit Dermo di tahun 2024 akan dianggarkan dengan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Meski begitu, jumlah anggaran tersebut lebih sedikit daripada awal perencanaan pada tahun 2022.
“Sekarang kami dapat alokasi untuk pengembangan Bukit Dermo lagi, tapi jumlahnya tidak sebesar yang kemarin. Kira-kira sekitar 50 persen, sekitar Rp 7,18 miliar,” ujarnya, Minggu (25/2).
Sebelumnya, rencana pengembangan Bukit Dermo telah digarap sejak tahun 2022. Pada awalnya, anggaran untuk pengembangan Bukit Dermo dipatok sekitar Rp 14 miliar.
Lalu tahun 2023 seharusnya pembangunan tersebut telah memasuki lelang.
Namun, lantaran lelang tersebut mundur, pembangunan tersebut belum dapat dilakukan tahun 2023.
Kemudian di tahun 2024, Pemkab Bantul mendapat anggaran DAK tersebut. Rencananya proses lelang proyek tersebut akan dilakukan pada Maret 2024.
Menurut Agus, karena anggaran yang didapat dari DAK hanya sebagian dari anggaran yang diperlukan, maka DED Bukit Dermo tengah dikaji ulang.
Selain itu, Pemkab Bantul juga akan mencari sumber pendanaan lainnya.
“Sisa anggaran Rp 7 miliar itu nantinya akan dikaji. Pemkab Bantul akan mencari sumber pendanaan lain untuk menyelesaikan proyek tersebut,” kata mantan kepala Dinas Kesehatan Bantul ini.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Bantul Yuli Hernadi mengatakan, dalam rencana pembangunannya, Bukit Dermo akan dibangun sejumlah fasilitas fisik pendukung pariwisata.
Seperti sky bridge, viewing deck, amphitheater, outdoor gym, dan foodcourt.
Termasuk los produk lokal Bantul. Sejumlah fasilitas yang ada bakal mendukung berbagai kegiatan kebudayaan, olahraga, jeep touring, hingga pelestarian kawasan.
“Akan ditata sebagai objek wisata yang menawarkan view alam,” ujarnya.
Dari alokasi anggaran tahun ini yang didapat dari DAK sekitar Rp 7,18 miliar. Turun sekitar 50 persen dari alokasi anggaran sebelumnya.
Perubahan signifikan yang ada dalam rencana penataan tersebut adalah pembangunan menara pandang dan tourist information center (TIC).
Di mana jumlah menara pandang dikurangi dari tiga menjadi satu.
“TIC sementara belum bisa di bangun karena angarannya jadi turun,” ungkap Yuli.
Pihaknya sendiri menargetkan pembangunan kawasan Bukit Dermo mulai dikerjakan pada Juni 2024 mendatang.
Pembangunannya sendiri diperkirakan berlangsung selama 180 hari. “Masih melihat uangnya dari pusat dulu,” ucap Yuli.
Sementara Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Bantul Suprianto menyampaikan, Bukit Dermo akan berdiri di atas tanah Sultan Ground (SG) seluas 2,7 hektare.
Pembangunannya telah mendapat serat kekancingan dari Keraton Jogja sejak Maret 2020 lalu.
Sehingga rencana pembangunan Bukti Dermo dapat dilakukan sesuai perencanaan Pemkab Bantul.
“Mau dioptimalkan seperti apa nanti sesuai dengan program dan desainnya. Jadi kalau soal perizinan wisatanya sudah selesai,” jelasnya.
Suprianto menjelaskan, jangka waktu serat kekancingan tersebut selama 10 tahun. Nantinya dapat diperpanjang kembali.
Sementara lantaran digunakan oleh pemkab maka penggunaan SG tersebut tidak perlu membayar biaya sewa kepada Keraton Jogja.
“Nanti kalau ini kembali dianggarkan (pembangunan Bukit Dermo) sudah melalui seleksi dari pengguna jasa. Tinggal kapan akan dimulai kontraknya, masalah tanah (perizinan) sudah selesai,” jelasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad