BANTUL – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mencatat setiap tahun ada pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) olahan ikan sebesar 10 persen.
Meskipun, masih banyak usaha perorangan yang belum memiliki pembinaan di tingkat kabupaten.
Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Kelautan dan Perikanan DKP Bantul Doni Muhammad Irawan menyampaikan, saat ini ada 30 UMKM olahan ikan yang ada di Bantul. Guna mendorong peningkatan UMKM olahan ikan, dinasnya melakukan pembinaan secara intensif.
Meliputi pembinaan terkait teknis pengolahan ikan hingga perizinan atau sertifikasi yang diperlukan.
“Kemudian peningkatan keterampilan hingga pengembangan pemasaran,” katanya saat dihubungi, Rabu (7/2).
Ia menyebut, beberapa UMKM yang dibina DKP Bantul telah melakukan pemasaran hingga ke luar provinsi, bahkan seluruh Indonesia. Meskipun masih ada UMKM yang pemasarannya sebatas wilayah Bantul.
Saat ini, sudah banyak UMKM yang melakukan pemasaran secara online melalui marketplace. Juga ke gerai minimarket toko kelontong dan ritel.
“Selama memenuhi syarat dan perizinannya komplet sudah bisa masuk ke toko-toko itu,” ujarnya.
Dalam mengembangkan UMKM olahan ikan, DKP Bantul juga menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak. Seperti DKP DIY, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul, dan Dinas Koperasi dan UKM DIY.
Setiap tahunnya ada pertumbuhan UMKM yang baru. DKP Bantul pun juga melakukan pelatihan untuk masyakarat pemula yang tertarik untuk pengolahan ikan.
"Rata rata perorangan ada yang belum mengetahui bahwa mereka perlu pembina di kabupaten. Setiap informasi terus kami tindaklanjuti, ada pengolahan ikan yang baru akan kami datangi,” ucap Doni.
Saat ini, 30 UMKM yang dibina DKP Bantul telah memiliki Nomor Induk Berusaha. Atas hal itu, DKP Bantul mendorong sertifikasi halal kepada UMKM yang dibinanya.
Kemudian sertifikasi tentang kelayakan pengolahan ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Lalu juga terkait izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan izin edar.
“Kami juga mendorong mereka untuk ke arah tersebut supaya jangkauannya lebih luas dan masuk ke pasar modern,” kata Doni.
Menurutnya, industri rumah tangga pengolahan ikan sangat potensial di Bantul. Pasanya juga masih terbuka luas.
Apalagi, saat ini sudah banyak fasilitas pemasaran lewat online. Sehingga tidak terbatas oleh wilayah.
Sebab masih banyak UMKM di luar 30 UMKM yang dibina DKP Bantul. Hanya saja, DKP Bantul terkendala jumlah sumber daya manusia.
Karena yang membina hanya berjumlah tiga orang di satu kabupaten. Untuk itu, DKP Bantul berkolaborasi dengan DKP DIY untuk memaksimalkan pembinaan itu.
Di samping itu, DKP Bantul juga memiliki perwakilan penyuluh perikanan di setiap kapanewon di Bantul. Hanya saja mereka di bawah kementerian langsung.
“Kami berkolaborasi dengan mereka untuk pengembangan UMKM tersebut. Kami tidak menutup kemungkinan kalau ada UMKM yang baru untuk difasilitasi pembinaannnya juga,” ujar Doni.
Doni menyatakan, dinasnya selalu mendorong UMKM yang terbukti eksis untuk bisa mengakses program dari pemerintah. Salah satunya dengan adanya bantuan sarana dan prasarana.
Hanya saja untuk bisa mengakses tersebut, pelaku UMKM harus tergabung dalam kelompok pengolah ikan.
“Kami terus dorong karena bantuan kan juga bisa dari provinsi dan kementerian juga,” tuturnya.
Salah satu UMKM yang menjadi kelompok binaan DKP Bantul adalah UMKM Lesigor. UMKM yang berada di Mulyodadi, Bambanglipuro, itu memiliki produk berupa ikan lele berbumbu beku.
Pendiri UMKM Lesigor Nanang Irawan mengakui, usaha miliknya rutin mengikuti pendampingan dari dinas setiap bulannya. Pendampingannya berupa mengurus perizinan.
Lalu, juga terkait pemasaran yakni dipertemukan dengan distributor atau toko ritel. Kemudian UMKM miliknya juga rutin diikutkan dalam bazar atau pameran.
“Setiap bulan juga ada pertemuan dengan kelompok pengolah dan pemasar ikan di DKP Bantul,” ungkap Nanang. (tyo)
Editor : Amin Surachmad