Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada 11 Kematian Akibat Leptospirosis Pada 2023, Dinkes Bantul Imbau Masyarakat Waspadai Penyebarannya

Gregorius Bramantyo • Kamis, 11 Januari 2024 | 21:43 WIB
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara.

BANTUL – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat peningkatan jumlah kasus leptospirosis tahun 2023 dibandingkan tahun 2022.

Dinkes Bantul mengimbau agar masyarakat mewaspadai penularannya.

“Penyakit leptospirosis tahun 2023 kasus ini cukup banyak kita jumpai. Penyakit yang disebabkan oleh kuman yang disebabkan oleh air kencing tikus,” ujar Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara saat dihubungi, Kamis (11/1).

Berdasarkan data Dinkes Bantul pada tahun 2023 ada 168 kasus leptospirosis dengan 11 orang di antaranya meninggal dunia.

Sementara jumlah kasus leptospirosis di tahun 2022 ada 137 kasus dengan empat orang di antaranya meninggal dunia.

Agus mengimbau agar masyarakat mewaspadai penyebaran penyakit tersebut.

Masyarakat diminta waspada terhadap genangan air. Terutama di tempat yang berpotensi menjadi sarang tikus.

“Masyarakat dapat menggunakan alas kaki agar tidak terkena kuman leptospira,” imbuhnya.

Beberapa gejala penyakit tersebut yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain demam, mual, sakit kepala, diare, mata merah, dan nyeri otot.

Ia pun meminta masyarakat yang mengalami gejala tersebut agar dapat memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat.

“Kalau ada gejala seperti itu bisa segera ke fasyankes terdekat, segera diperiksa, dipastikan sakitnya apa,” katanya.

Menurutnya, apabila penyakit tersebut ditemukan pada fase awal dengan gejala yang masih ringan, maka upaya pengobatan penyakit tersebut lebih mudah untuk dilakukan.

“Kalau ditemukan pada fase awal lebih mudah untuk disembuhkan, jangan sampai ke fasyankes dalam kondisi berat, penurunan kesadaran dan sebagainya atau ada kesulitan buang air kecil yang sudah berat, berarti kan sudah ada gangguan sampai ke ginjalnya,” lanjut Agus.

Ia berharap agar masyarakat segera memeriksakan diri sebelum mengalami gejala berat.

Karena, menurutnya, beberapa penderita penyakit tersebut yang meninggal disebabkan karena terlambat mendapatkan akses ke fasyankes.

Dinkes Bantul pun telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di setiap kapanewon untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tersebut.

“Harapannya kepedulian masyarakat mengenai penyebaran penyakit leptospirosis semakin meningkat, sehingga penularan penyakit tersebut dapat ditekan,” tandasnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#dinkes bantul #leptopirosis