Dalam beberapa waktu terakhir, PSWG hanya ramai dikunjungi oleh wisatawan ketika sedang berlangsung event atau acara komunitas.
Kepala DKUKMPP Bantul Agus Sulistiyana mengatakan, PSWG merupakan pekerjaan rumah berat bagi dinasnya sebagai pengelola kawasan tersebut.
Ia menyebut, pihaknya kesulitan mengembangkan PSWG menjadi destinasi seni dan wisata yang dilirik dan dikunjungi oleh banyak wisatawan. Namun saat ini, pihaknya tengah berupaya untuk mengembangkan PSWG dengan menggandeng lima unsur.
“Karena, kami tidak bisa berjalan sendiri untuk membangun destinasi seni dan wisata tersebut," katanya, Senin (20/11).
Adapun lima unsur tersebut meliputi pihak investor, Pemkab Bantul, lemerintah desa, Keraton Jogja, hingga pelaku UMKM. Hal itu dilakukan mengingat kondisi lokasi PSWG berada di atas tanah kas desa (TKD) atau tanah milik keraton.
"Lima unsur itu perlu terlibat untuk membuat tempat yang sangat strategis menjadi tempat usaha para UKM, dengan prinsip bagi hasil kepada lima unsur tersebut," jelasnya.
Menurutnya, menurunnya kunjungan wisatawan di PSWG juga memberikan pengaruh terhadap penurunan pendapatan asli daerah (PAD). Saat ini PAD yang dikumpulkan dari retribusi dari UKM hanya ada beberapa ratus juta rupiah saja.
"Mungkin di 2023 ini baru ada Rp 300 juta," imbuh Agus.
Maka dari itu, saat ini pihakya sedang berproses mengembangkan PSWG dengan konsep baru. Nantinya di sana akan ada penginapan murah untuk membentuk ekosistem usaha.
Kemudian ke depan, PSWG dengan lahan seluas 7,5 hektare itu akan dilengkapi dengan food court, sejumlah produk UKM lokal, tempat workshop, area hiburan, dan area wahana anak-anak.
Namun, mantan Panewu Pandak dan Piyungan ini belum bisa menargetkan kapan konsep-kosep itu bisa terealisasikan.
“Tapi, mudah-mudahan segera terealisasikan, sehingga PAD kami khusus dari PSWG bisa tembus sampai angka Rp 500 juta," ujarnya.
Koordinator PSWG Sigit Selo Raharjo mengatakan, pihaknya belakangan ini hanya mengandalkan agenda event dan komunitas untuk meramaikan PSWG. Contohnya, komunitas barang antik dan pusat oleh-oleh. Namun, akhirnya juga tenggelam.
Event yang digelar baik dari pemerintah maupun komunitas. Dari Pemkab Bantul, event selain Bantul Expo, ada juga Pasar Klangenan.
Lalu, ada pula event dari komunitas seperti anniversary komunitas mobil kemudian komunitas burung. Selain itu, sebelumnya juga pernah ada lelang barang antik di PSWG.
"Tapi, akhir-akhir ini melempem juga,” ungkapnya.
Sigit menjelaskan, sebenarnya Pemkab Bantul sudah memiliki gambaran konsep PSWG ke depan. Rencananya akan dijadikan pusat ekonomi kreatif. Namun hingga saat ini belum juga berjalan.
Baginya, konsep PSWG ke depan tak perlu muluk-muluk. Hanya menjadikan PSWG sebagai taman hiburan rakyat bagi warga Bantul.
Dengan lokasi yang strategis dan area yang luas, kawasan tersebut sangat potensial untuk mendulang pendapatan asli daerah (PAD).
Pengelolaan ke depan, menurut Sigit, tentunya juga harus menyesuaikan dengan kondisi perekonomian di Bantul.
“Kalau menurut saya begitu. Tapi kan saya bukan pemegang kebijakan, saya hanya bisa menyampaikan melalui kepala dinas,” tandasnya. (tyo)