RADAR JOGJA - Tinggal di Kapanewon Kasihan membuat Damba Aktivis dekat dengan anak-anak muda. Lengkap dengan persoalannya. Mulai kenakalan remaja hingga potensi terpendam generasi yang sering disebut dengan Gen Z ini.
”JUMLAH anak muda di Kapanewon Kasihan sangat banyak,” jelas Damba di kantornya kemarin (14/11).
Secara geografis, letak Kapanewon Kasihan berada di perbatasan Kabupaten Bantul dengan Kota Jogja. Wakil Ketua DPRD Bantul ini pun menganggap letak geografis itu membawa sejumlah konsekuensi. Antara lain, tingginya angka kriminalitas yang melibatkan anak muda. Itu bisa dilihat dari angka kriminalitas yang ditangani kepolisian. Beberapa kelompok remaja dari sejumlah kapanewon di Bantul menjadi Kasihan sebagai tempat berkumpul. Mulai Banguntapan hingga Pandak.
”Makanya, Kapanewon Kasihan selalu menjadi sasaran terduga pelaku ketika terjadi kasus klithih. Asal usulnya pasti dari Kasihan,” ucapnya.
Karena itu, politikus PAN ini pelan-pelan merangkul Gen Z di wilayah Kapanewon Kasihan. Yakni, remaja yang lahir mulai 1995-2010. Caranya dengan mengajak mereka berdiskusi santai. Dari obrolan santai itu, Damba sedikit demi sedikit mulai mengetahui jalan pikiran mereka. Juga, potensi terpendam mereka.
”Kuncinya memang harus telaten dan sabar,” tuturnya.
Dari beberapa komunitas anak muda yang sudah dirangkul, Damba mengajak mereka melek politik. Damba menceritakan, sebagian mereka awalnya telanjur enggan bersinggungan dengan partai politik (parpol). Mereka cenderung ingin golput.
Kendati begitu, Damba perlahan memberikan edukasi politik kepada mereka. Bahwa setiap remaja yang telah menginjak usia dewasa memiliki hak politik.
”Jangan sampai hak ini tidak dimanfaatkan. Ini hak mereka yang harus digunakan,” ujar Damba tanpa menggiring mereka untuk memilih salah satu parpol atau tokoh politik tertentu.
Selain melek politik, Damba juga mengajak komunitas anak muda peduli terhadap pembangunan di kampung mereka masing-masing. Salah satu caranya dengan aktif melibatkan mereka. Mulai perencanaan hingga pelaksanaannya.
”Kami pancing dengan meminta ide dan konsep dari mereka,” ungkapnya.
Di antara ide pembangunan yang telah terealisasi, Damba menyebut perihal penanganan sampah. Ide ini mencuat lantaran salah satu komunitas binaannya prihatin dengan penanganan sampah di kampungnya.
”Program-program yang mereka sodorkan kami fasilitasi melalui organisasi perangkat daerah terkait,” katanya.
Damba berpendapat Gen Z sebenarnya memiliki segudang potensi. Karena itu, Damba ingin Gen Z punya andil dan lebih aktif dalam proses pembangunan.
”Yang tua tinggal duduk menikmati hasil kreasi anak-anak muda,” jelasnya.
Selama intens mendampingi Gen Z, Damba juga mengetahui bahwa mereka memiliki energi lebih. Energi ini perlu disalurkan ke berbagai kegiatan produktif. Antara lain olahraga. Misalnya, sepakbola, futsal, badminton, hingga pingpong. Namun, Damba melihat sarpras berbagai jenis olahraga ini di Kapanewon Kasihan masih minim.
Sekretaris DPD PAN ini telah berupaya memfasilitasi pengadaan sarpras berbagai olahraga ini melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Sayangnya, nomenklatur pengadaan sarpras ini tidak tersedia dalam SIPD (sistem informasi pembangunan daerah).
”Seharusnya SIPD Kabupaten Bantul bisa memfasilitasinya,” harapnya.
Baca Juga: Angka Pengangguran Terbuka Terus Turun, Disnakertrans Bantul: Insyaallah di 2024 Ada Rekrutmen Lagi
Menurutnya, pemkab sebenarnya telah berkomitmen membangun kualitas sumber daya manusia (SDM). Hanya, komitmen ini masih setengah-setengah. Padahal, pembangunan kualitas SDM tak kalah penting dibanding infrastruktur. Apalagi, DIJ saat ini telah memasuki bonus demografi. Lebih cepat dibanding provinsi lain.
”Ini artinya, bonus demografi harus diiringi dengan program-program untuk meng-upgrade kualitas SDM. Jika tidak, bonus demografi ini hanya akan menjadi malapetaka,” ingatnya. (zam)
Editor : Satria Pradika