RADAR JOGJA - Pelukis perempuan asal Jogjakarta Astuti Kusumo melihat sosok Djoko Pekik layaknya orang tua. Menyandang gelar maestro lukis, tak menjadikan Djoko Pekik tinggi hati. Pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, ini justru dekat dengan semua kalangan.
Dia lalu mengenang saat masa pandemi Covid-19. Kala itu, juga menjadi masa terpuruk bagi para pelukis.
Selain tak bisa menggelar pameran, karya mereka juga tak mudah terjual. Alhasil, pemasukan untuk kebutuhan hidup terhambat.
“Saat mulai melandai, saya membuat sebuah pameran bersama teman-teman untuk support seniman. Beliau (Djoko Pekik) berkenan menyerahkan karyanya pada saya untuk kemudian kita sumbangkan hasilnya untuk kegiatan tersebut,” kenangnya di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (13/8).
Dalam penghormatan terakhir ini, Astuti melukis anjing milik Djoko Pekik. Menurutnya, kepergian seorang Djoko Pekik tak hanya menjadi kesedihan sanak saudara dan para sahabat. Tapi, juga alam.
Inilah yang dia lihat dari anjing-anjing Djoko Pekik. Mereka terlihat murung selama persemayaman.
“Kehilangan seorang tokoh maestro seni rupa, seperti apapun semesta lingkungan sini ikut kehilangan. Ingin melukis anjing beliau dan kasih judul Menunggu Simbah Bapak. Jadi, beliaunya akrab dengan panggilan simbah bapak. Banyak sekali anjing di sini. Semua ikut merasakan kesedihan yang teramat dalam,” ujarnya. (dwi)