RADAR JOGJA - Benteng Baluwarti memiliki sejarah panjang. Didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, hingga kini benteng masih kokoh berdiri.
Benteng itu kini sedang direvitalisasi. Ketika revitalisasi berlangsung, ditemukan benda yang diduga tengkorak manusia pada Senin (7/8). Tengkorak itu sudah dipindahkan.
Dosen Filsafat Mataram Universitas Widya Mataram Jogjakarta Heru Wahyu Kiswoyo menyatakan, lokasi tempat penemuan tengkorak manusia itu dulu adalah tempat terjadinya Geger Sepehi yang terjadi 19 dan 20 Juni 1812.
Saat itu, pasukan Inggris berada di depan Kagungan Dalem Keraton Jogjakarta. Pasukan Inggris masuk lewat Benteng Baluwarti. Mereka menjarah benda-benda berharga milik Keraton Jogja. Banyaknya sampai tiga kapal.
Heru menambahkan, Benteng Baluwarti merupakan saksi bisu terjadinya peristiwa Geger Sepehi. Saat itu bala tentara Inggris yang menguasai Jawa, menyerang Keraton Jogjakarta.
Pasukan Inggris menyerang dari sisi timur. Dipimpin Kolonel James Watson dengan Resimen Infanteri ke-14 Buckinghamshires.
Mereka menembaki dengan meriam. Mereka berhasil meledakkan gudang mesiu yang berada di Pojok Beteng Timur Laut.
Perang ini juga membuat Plengkung Madyasura yang berada di sisi timur ditutup permanen. Penutupan Benteng Madyasura sebagai bagian dari strategi pertahanan. Itu usai Keraton Jogjakarta mendengar pasukan musuh berencana masuk melalui plengkung tersebut.
"Akibat ledakan yang dahsyat tersebut, sekarang ini Benteng Baluwarti hanya menyisakan tiga bastion. Yakni, Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor," bebernya.
Puncak serangan pasukan koalisi Inggris dengan Sepoy terhadap Keraton Jogjakarta adalah pada hari kedua, 20 Juni 1812. Ketika fajar menyingsing, prajurit-prajurit Inggris dan Sepoy menyebar mengepung tembok keraton.
Beberapa dari mereka berhasil masuk Benteng Baluwarti menggunakan tangga bambu yang telah disiapkan oleh Kapiten Cina Tan Jin Sing.
"Sikap itulah yang kelak menimbulkan sentimen anti-Tionghoa yang sangat kuat di Jogjakarta. Akibat serangan ini, Sultan Hamengku Buwono II ditangkap dan ditawan oleh Inggris," tandasnya. (ayu)
Editor : Amin Surachmad