Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dulu Dikunjungi Ribuan Orang Tiap Hari, Sempat Hits di Masanya, Mangrove Jembatan Api-Api Kondisinya Memperihatinkan

Anom Bagaskoro • Selasa, 16 April 2024 | 14:25 WIB
Memperihantinkan, kata ini mungkin pas apabila melihat kondisi mantan objek wisata yang pernah berjaya di Kulon Progo.
Memperihantinkan, kata ini mungkin pas apabila melihat kondisi mantan objek wisata yang pernah berjaya di Kulon Progo.

RADAR JOGJA – Memperihantinkan, kata ini mungkin pas apabila melihat kondisi mantan objek wisata yang pernah berjaya di Kulon Progo. Objek Wisata Mangrove Jembatan Api-Api terletak di Padukuhan Pasir Mendit, Kalurahan Jangkaran, Kapanewon Temon sempat menjadi primadona bagi wisatawan yang berkunjung di Kulon Progo.

Tempat ini menyajikan kesejukan dan kerindangan hutan bakau. Pengunjung juga bisa menikmati berbagai spot yang telah disediakan. Namun, kisah kejayaan wisata ini terkubur, setelah kondisinya memperihatinkan. “Berjaya di tahun 2018, dan saat ini kondisinya cukup kekurangan,” ucap Pengelola Wisata Mangrove Jembatan Api-Api (MJA) Suprianta, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (5/4).

Sebagai pengelola, Suprianta tak menampik kebenaran kondisi wisata yang kini memperihatinkan. Kondisi wisata kini memperihantinkan dalam berbagai aspek. Dari segi jumlah kunjungan wisatawan mengalami penurunan drastis. Ekstrimnya, bahkan tak ada pengunjung yang mendatangi MJAA.

Padahal di 2016 sejak pembukaan awal objek wisata ini setiap harinya selalu dikunjungi minimal ratusan orang. Bahkan di 2018, pengunjung setiap harinya mencapai ribuan orang. Hal ini tentunya berimbas pada pemasukan pengelola. Dan bermanfaat bagi perkonomian masyarakat sekitar.“Sempat pemasukan dari tiket sekitar Rp 50 juta, dan perdagangan di sekitar ramai,” ucap Suprianta.

Suprianta menjelaskan, selain dari segi jumlah kunjungan. Keprihatinannya juga didasari pada fasilitas yang tak terawat. Sebelumnya terdapat 12 spot yang disediakan oleh pengelola, dan saat ini hanya tersisa satu spot, dengan kondisi cukup tak terawat. Padahal 12 spot dulunya merupakan favorit wisatawan karena cocok untuk berswafoto di lokasi tersebut.

Selain spot foto, kondisi jembatan penghubung juga mengalami kerusakan. Terdapat 600 meter jembatan yang dulu sering dilalui pengunjung, kini membutuhkan perawatan. Jembtan penghubung yang sudah rusak sebagian ditutup oleh pengelola, karena khawatir membahayakan pengunjung yang melewati area jembatan.

Kendati, kondisi wisata cukup memperihatinkan. Suprianta tak bisa berbuat banyak. Dirinya mengaku tak memiliki dana yang cukup untuk memperbaiki. Bahkan untuk sekedar merawat bangunan saja dirinya kesulitan. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membiayai operasional objek wisata, seperti tagihan listrik dan air."Kalau untuk perbaikan Rp 500 juta pasti habis untuk fasilitas saja," ucap Suprianta.

Suprianta menjelaskan, MJAA merupakan objek wisata yang dibangun oleh 15 warga asli. Dikembangkan dengan dan swadaya masyarakat. Apabila jumlah pengunjung turun maka akan berdampak pada pemasukan kas objek wisata. Dan tentunya berpengaruh pada keberlanjutan objek wisata itu sendiri.

Pihaknya mengaku sudah berusaha menormalkan lembali objek wisata ini. Bahkan mereka berusaha mengajukan dana keistimewaan untuk memperbaiki wisata MJAA. Namun, dana tersebut tak kunjung dapt diakses.

Marija tokoh masyarakat sekaligus pengunjung MJAA, mengaku prihatin dengan keadaan objek wisata. Padahal menurutnya objek wisata MJAA memiliki potensi luar biasa besar dalam pengelolaannya. Tak hanya bagi pengelola, namun juga masyarakat sekitar objek wisata. "Sayang sekali, padahal akan muncul multiplier effect dengan adanya objek wisata ini," ucap Marija.

Multiplier effect terjadi karena objek wisata mendatangkan pengunjung. Jika ramai masyarakat bisa memanfaatkan momen, untuk berjualan disekitar wisata. Tentunya hal ini dikelola dengan kearifan dan swadaya masyarakat. Yang berimbas penuh pada kesejahteraan masyarakat.

Adanya wisata yang dikelola dengan baik dan potensi luar biasa dapat menaikkan nama Kulon Profo. Sehingga sangat disayangkan apabila pemerintah tak memanfaatkan antusias masyarakat untuk mengelola wisata.

Tak hanya itu, ia menyoroti peran pemerintah yang tak sigap dalam membantu pengelolaan. Walupun wisata tersebut merupakan wisata swadaya masyarakat, yang minim menyumbang PAD. Namun, sepantasnya pemrintah ikut andil dalam menyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat. "Seharusnya pemerintah ikut ambil bagian," ucap Marija. (cr7/pra)

 

 

Editor : Satria Pradika
#Mangrove Jembatan Api Api