Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jalan-Jalan Menikmati Wisata Budaya dan Wisata Alam di Kalurahan Kebonharjo Samigaluh

Anom Bagaskoro • Minggu, 3 Maret 2024 | 12:25 WIB
View persawahan di kawasan Samigaluh
View persawahan di kawasan Samigaluh

 

 

RADAR JOGJA - Pesona dataran tinggi di Kapanewon Samigaluh punya beragam. Kali ini di Kalurahan Kebonharjo, yang dapat dikunjungi melalui perjalanan darat. Dari Kota Wates pengunjung hanya memerlukan waktu 1 jam 20 menit, sedangkan dari Kota Jogja cukup 1 jam perjalanan.

"Tempat kami memiliki keunggulan wisata alam dan wisata budaya," ucap Lurah Kebonharjo Sugimo, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (1/3).

Sugimo menjelaskan, wisata alam di Kebonharjo berupa wisata air dan menikmati pemandangan sawah. Pengunjung dapat menghabiskan waktu di sekitaran sawah terasering yang tersebar diseluruh Desa Kebonharjo.

Mirip dengan sawah terasering di Bali, sawah di Kebonharjo memiliki struktur terasering.

Apabila pengunjung datang di masa sebelum panen, pengunjung dapat melihat sawah nan hijau menyebar diseluruh pandangan mata. Menghabiskan waktu disekitaran sawah menjadi opsi menarik, tentunya dengan menghabiskan waktu dengan keluarga.

Di sekitaran persawahan pengunjung tak perlu kuatir apabila lapar ataupun haus. Karena terkadang pedagang jamu dan minuman ataupun makanan sering mendatangi pengunjung. "Sudah banyak pengunjung yang mampir di daerah pesawahan di sekitar desa," ucap Sugimo.

Pengunjung biasanya berswafoto di sekitaran sawah. Tak hanya itu, Sugimo menjelaskan pesawahan di Kalurahan Banjarharjo merupakan Lumbung Mataraman. Keaslian pesawahan sejak dahulu selalu terjaga. Sehingga kealamian sawah nampak jelas di sawah Desa Kebonharjo.

Selain sawah pengunjung dapat berekreasi di salah satu perkampungan yang merupakan sentra durian. Padukuhan Kaliduren salah satu spot bagi pengunjung yang menginginkan hunting raja buah ini. Terlihat dari nama padukuhannya, di padukuhan ini pengunjung dapat melihat tanaman durian yang berjajar di spanjang jalan.

"Kaliduren terkenal dengan duriannya, bahkan pohon durian banyak sudah tumbuh berpuluh-puluh tahun," tutur Sugimo.

Adanya pohon yang sudah berpuluh puluh tahun membuat banyak pengunjung penasaran karena dimensi pohonnya yang luar biasa besar. Rata-rata diameter pohon durian di daerah Kaliduren berkisa 80-100 cm. Di Kaliduren pengunjung dapat melihat petani yang sedang merawat durian ataupun belajar melalui petani durian.

Tentunya pengunjung dapat membeli langsung durian yang dijual petani dengan harga murah. Rata-rata harga durian di daerah tersebut berkisar Rp 10 ribu. Harga tersebut cukup terjangkau apabila melihat harga di luar Desa Kebonharjo.

"Selain wisata alam, Kebonharjo memiliki wisata budaya yang berasal dari tradisi turun temurun," ucap Sugimo.

Menurut Sugimo, wisata budaya di daerah Kebonharjo menitikberatkan pada tradisi yang telah berjalan sejak lama. Tak seperti desa-desa lain yang hanya memiliki merti dusun, Desa Kebonharjo memiliki acara adat Tayuban.

Acara yang digelar setiap malam Rabu Pungkasan di Bulan Safar ini telah berlangsung selama ratusan tahun. Tayuban sendiri merupakan acara syukuran terhadap semua hal yang telah diberikan Tuhan selama satu tahun. Tayuban menampilkan kesenian tari dan gamelan.

 

Sugimo menjelaskan, saat prosesi tayuban pengunjung dapat mengikuti dan melihat acara tersebut. Karena rangkaian acara tak hanya melihat kesenian namun juga terdapat arak arakan gunungan yang berisi hasil bumi yang nantinya dapat diambil pengunjung.

Pengunjung tak perlu khawatir apabila selama acara Tayuban tak berani pulang malam. Karena pintu rumah warga selalu terbuka untuk pengunjung. Keramahan warga akan menyambut pengunjung.

Menghabiskan waktu di desa ini cukup menyenangkan karena udaranya masih sanat bersih dan ditambah suasan pedesaan yang masih asri."Untuk saat ini wisata yang telah saya sebutkan tadi belum dikenai biaya ataupun retribusi," ucap Sugimo.

Ia menjelaskan semua wisata di Desa Kebonharjo tak ada tarikan retribusi. Hal ini dikarenakan karena keinginan warga dan Sugimo untuk memperkenalkan dahulu wisata di Kebonharjo ke luar. Ia juga mengagendakan penambahan fasilitas bagi pengunjung sebelum adanya retribusi.

Sementara itu, salah satu pengunjung Heri Widodo menjelaskan, dirinya sudah sering mendatangi Kebonharjo. Menurutnya Kebonharjo memiliki dimensi suasana yang jauh berbeda dibanding daerah lainnya. Tak hanya berkaitan dengan sawah namun juga kultur budaya masyarakat Kebonharjo yang memiliki sisi unik.

Heri menjelaskan, ia bersama teman-temannya bersepeda melewati jalan setapak yang berada ditengah-tengah sawah. Apabila sudah lelah, ia kemudian istirahat disebuah kedai kopi, untuk membeli makanan ataupun minuman.

"Suasananya yang bagus dan membuat betah, sehingga saya ingin selalu berkunjung," ucapnya.

Kendati membuat nyaman, Heri juga menyoroti akses jalan yang membuat dirinya kesulitan. Namun, itu tak membuat luntur semangatnya untuk berkunjung di Kebonharjo. (cr7/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#Kulon Progo #Samigaluh #Asatan