
DERU ratusan sepeda motor mendadak memenuhi areal parkir Stadion Manahan. Ribuan orang berbaju hijau berkumpul sembari menyanyikan yel-yel. Teriknya matahari Kota Solo seperti yang menurunkan volume nyanyian mereka. Sembari bernyanyi mereka berjalan tertib menuju pintu masuk tribun timur Stadion Manahan.
Di dalam stadion pemandangan begitu menyejukkan mata. Ribuan massa berkostum hijau itu memenuhi seluruh tribun timur Manahan. Saat itu, tibun timur belum beratap seperti saat ini. Dari seberang barat terlihat ribuan pasang tangan membentangkan kertas hijau kuning yang membentuk keroegrafi “PSS Sleman”. Ya, itulah Slemania. Pendukung fanatik PSS Sleman.
Kala itu medio 2004, PSS bertandang ke Stadion Manahan. Mereka mendukung timnya menghadapi tuan rumah Persijatim Solo FC. Kekompakan suporter Sleman ini menjadi suguhan yang cukup menarik di laga itu. Meski laga berakhir sama kuat 1-1, tapi akhir pertandingan berlangsung aman.
Itulah kali pertama saya melihat bentuk dan wujud pendukung PSS. Maklum, saya baru saja menempati desk olahraga di Radar Solo. Sebelumnya, saya masih jadi wartawan ndeso di Radar Banyumas. Begitu pindah tugas ke Radar Solo, barulah saya menjadi jurnalis sepak bola sesungguhnya. Liputannya klub kasta tertinggi sepak bola tanah air. Mohon maaf sebelumnya, saya masih ndeso banget. Liputan saya di Radar Banyumas, hanya tim-tim Divisi IIB semacam Persibas Banyumas, PSCS Cilacap, Persekat Tegal, Persip Pekalongan dan Persibara Banjarnegara.
Liputannya pun tak tentu. Maklum kala itu, Divisi IIB masih belum regular. Diputar menunggu jadwal turun dari Pengda PSSI Jateng. Kalau tak ada Divisi II liputan saya lebih ngenes lagi. Tarkam pun menjadi alternatif paling utama. Ini lantaran, saya harus memenuhi kewajiban. Setor minimal tiga berita setiap hari. Kalau tidak, bisa jadi kendil di rumah ngguling.
Gara-gara kerap blusukan ke tarkam-tarkam, nama Radar Banyumas ikut terkerek. Banyak panitia tarkam yang senang diliput. Saya pun sempat kelabakan. Soalnya, lokasi lapangan antara satu tarkam dengan yang lainnya terpaut belasan kilometer. Akhirnya, untuk mencari skala prioritas saya bikin kerja sama dengan panitia tarkam. Bentuknya, panitia harus beli koran yang nantinya dibagikan ke penonton jika ingin diliput. Eh, ternyata banyak dari pengelola tarkam yang antusias. Imbasnya, ternyata cukup ampuh. Oplah Radar Banyumas ikut naik gara-gara liputan tarkam.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




