Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tidak Orisinil, Sulit Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Editor Content • Minggu, 13 Maret 2022 | 14:26 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Jajanan kue leker dan crepes sering dianggap sama karena memiliki kemiripan. Keduanya mirip secara bentuk, hanya lapisan-lapisannya yang berbeda. Begitu juga dengan topingnya, awalnya hanya coklat dan pisang.

Namun sekarang lebih beragam. Selain itu cara memasaknya berbeda. Crepes menggunakan listrik sebagai sumber api, sedangkan leker menggunakan api arang.

Crepes aslinya berasal dari Eropa, tepatnya Bretagne di Prancis bagian barat. Berasal dari bahasa latin crispa yang berarti keriting. Sedangkan leker termasuk kuliner Indonesia. Memang tidak ada literatur asal muasal leker. Namun nama itu berasal dari bahasa Belanda yakni 'lekker' yang artinya enak. Orang Belanda biasa mengucapkan kata lekker usai memakan jajanan enak.

Paniradya Pati DIJ Aris Eko Nugroho menyebut beberapa makanan khas Jogja sudah masuk dalam warisan budaya tak benda (WBTB). Di antaranya gudeg manggar, lemper, thiwul, tempe benguk, dawet sambel, growol, mie lethek, sate klatak, dan gudeg. “Kue leker sulit jadi warisan budaya tak benda, karena otentik sulit dipenuhi,” ujarnya (10/3).

Beberapa sumber menyatakan kue leker merupakan jajanan khas Solo dan Surabaya. Konon banyak orang Belanda yang tinggal di Solo dan menyukai jajanan ini. Meskipun di Jogja juga banyak dijumpai, tidak ada literatur yang menyebut bahwa makanan tersebut asli Jogja. “Karena pembuatnya tidak hanya dari Jogja. Keaslian yang sulit,” tambahnya. (cr4/laz) Editor : Editor Content
#Jogja