RADAR JOGJA - Tren foto berkebaya di kawasan Malioboro awal mulanya lahir dari foto prewedding. Hal itu kemudian ditangkap oleh para komunitas di Malioboro menjadi sebuah peluang dengan menyediakan jasa foto bagi para wisatawan.
Tidak hanya fotografer saja yang diuntungkan. Penyedia jasa sewa baju kebaya hingga makeup artist (MUA) pun juga mendapatkan dampak positif tersendiri dari berkembangnya tren tersebut.
“Yang paling menarik dari fenomena tersebut adalah kekhasan baju kebaya, hal itu menjadi penanda bahwa mereka (wisatawan, Red) sedang berada di Jogja,” ujar Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Jogjakarta Edial Rusli kepada Radar Jogja kemarin (24/11).
Rusli membeberkan, bahwa tren foto seperti itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Bahkan sebelum adanya sosial media dan hadirnya kamera digital. Dulu, para penyedia jasa foto kerap ada di tempat wisata seperti Candi Borobudur dengan menggunakan kamera polaroid.
Dia menilai, adanya tren foto berkebaya di Malioboro juga turut mengangkat derajat para fotografer amatir. Karena teknik fotografinya pun tidak terlalu sulit. Cukup menggunakan baju adat lalu memanfaatkan latar belakang Malioboro atau Tugu Jogja.
“Sekarang fenomena foto berkebaya tidak hanya prewedding saja, tapi juga pasca-wedding dengan mengajak putra-putri (anak-anak, Red),” sebut Rusli. (inu/eno)
Editor : Satria Pradika