RADAR JOGJA - Seniman Ong Hari Wahyu termasuk salah satu konsumen yang punya kenangan terhadap keberadaan Fotocopy Sambas. Ia mengakui Sambas sangat menyenangkan dan tujuan para seniman. Sambas-lah yang bisa melayani permintaan macam-macam para seniman.
Dikatakan, dulu Sambas adalah tempat fotocopy paling terkenal di Jogja. Pada medio tahun 1980-an, Sambas sudah punya peralatan bagus, sehingga para seniman senang dengan keberadaan Sambas.
"Saya dulu kalau ke Sambas bukan fotocopy yang sifatnya teks. Tapi saya fotocopy untuk gambar," ujarnya kepada Radar Jogja (15/9).
Walaupun dulu hanya ada fotocopy hitam putih, menurut Ong, hasil dari fotocopy di Sambas memiliki warna kehitaman yang sangat pekat. "Para pegawai di sana sudah tahu kalau yang datang seniman, pasti hasilnya dipekatkan," ujarnya.
Dulu fotocopy Sambas menjadi tempat tujuan para seniman. Sebab Sambas dulu mau diajak bermacam-macam, dalam arti mau menerima sesuai permintaan para seniman.
"Seniman maunya bagaimana, mereka bisa melayani. Dan hasilnya juga bagus. Seperti kertas diremet lalu ditempel dan difotocopy, sehingga bisa timbul efek," ungkap Ong.
Ia menyebut Fotocopy Sambas dulu sangat bermafaat bagi seniman di segala bidang. Seperti seni rupa dan seni pertunjukan. Di sana para seniman dari seni pertunjukan bisa memfotocopy poster. Sementara untuk seni rupa bisa membuat eksperimen artwork.
"Seperti dulu Teater Gandrik ketikan bikin pamflet atau poster, ya fotocopy. Kalau buat yang seni rupa, membuat eksperimen artwork. Seperti gambar, majalah yang dipotong lalu ditempel dan difotocopy lagi," jelasnya.
Tak hanya bagi para seniman saja, lanjut Ong, Sambas adalah tempat tujuan fotocopy untuk masyarakat Jogja. "Pokoknya dulu kalau orang Jogja fotocopy ki ya di Sambas. Yang lain sudah pada tutup, di sana buka sampai pukul 24.00," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Satria Pradika