Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terarium dan Anak Muda, Jadi Praktik Kriya Hidup di Tengah Budaya Urban

F
Penulis: Fahmi Fahriza❯

 

Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Muhajirin.
Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Muhajirin.

JOGJA – Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr Muhajirin menilai, maraknya terarium merupakan cerminan pergeseran minat estetik generasi muda terhadap praktik kreatif yang lebih personal dan ekologis.


Advertisement

Lebih jauh, terarium juga dibaca sebagai medium kreativitas yang menghadirkan relasi baru antara manusia, seni, dan alam dalam skala mikro.

"Terarium tidak hanya dipandang sebagai objek dekoratif, tetapi juga sebagai medium ekspresi diri yang menggabungkan unsur alam, perawatan, dan kreativitas visual," ujarnya, Jumat (19/12/2025).

Advertisement

Ia menjelaskan, popularitas terarium tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan urban yang semakin menjauh dari alam.

Dalam kondisi tersebut, terarium hadir sebagai bentuk rekoneksi manusia dengan lingkungan hidup.

"Terarium hadir sebagai respons atas gaya hidup urban yang semakin jauh dari alam, sehingga menjadi medium rekoneksi antara manusia dan lingkungan hidup dalam skala mikro," kata Muhajirin.

Dari sudut pandang akademik seni kriya, terarium dapat dikategorikan sebagai karya kriya, terutama jika dilihat dari proses dan pendekatan pembuatannya.

"Seni kriya tidak semata-mata ditentukan oleh tradisi lama, tetapi oleh proses transformasi material menjadi objek bermakna," jelasnya.

Menurutnya, terarium memenuhi prinsip kriya karena melibatkan keterampilan tangan, pemilihan material, perancangan bentuk, serta pertimbangan fungsi dan estetika.

Berbagai unsur itu terlihat dalam penyusunan komposisi, eksplorasi material seperti kaca, tanah, batu, dan tanaman, hingga kepekaan terhadap bentuk, tekstur, dan warna.

Menariknya, terarium juga memperluas pemahaman kriya sebagai karya yang tidak statis.

"Adanya proses perawatan berkelanjutan memperluas pemahaman kriya tidak hanya sebagai benda statis, tetapi sebagai karya yang hidup dan dinamis," jelasnya.

Dalam klasifikasi praktik kriya, terarium diposisikan sebagai bagian dari kriya kontemporer.

Hal ini karena terarium lahir dari konteks kekinian dan bersinggungan erat dengan isu-isu modern.

"Terarium bersifat lebih terbuka, eksperimental, dan kontekstual terhadap isu-isu masa kini, seperti keberlanjutan dan gaya hidup urban," terangnya.

Namun demikian, penggunaan material hidup juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam wacana seni kriya.

Tanaman sebagai medium memiliki sifat yang terus berubah dan bergantung pada kondisi lingkungan.

Kondisi tersebut, justru memperkaya wacana kriya karena menuntut pendekatan lintas disiplin, mulai dari pengetahuan botani hingga ekologi.

Melihat perkembangan tersebut, fenomena terarium dinilai memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam praktik pendidikan seni kriya.

"Terarium bisa digunakan untuk mengajarkan dasar-dasar komposisi, eksplorasi material, kesadaran ekologis, serta kewirausahaan kreatif," tambahnya.

Ia pun optimistis, masuknya anak muda ke dunia seni kriya melalui medium populer seperti terarium akan membawa dampak positif bagi masa depan kriya itu sendiri.

"Seni kriya akan semakin inklusif, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman," imbuhnya. (iza/wia)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cegah Anak Muda Merantau, Laboratorium Sedusun Siyono Gunungkidul Ajak Jadi 'Ilmuwan' Desa

Cegah Anak Muda Merantau, Laboratorium Sedusun Siyono Gunungkidul Ajak Jadi 'Ilmuwan' Desa

Aktivitas anak muda dalam mengembangkan potensi lokal melalui Laboratorium Sedusun di Dusun Siyono, Petir, Rongkop. (dok. pribadi)Cegah Anak Muda Merantau, Laboratorium Sedusun Siyono Gunungkidul Ajak Jadi 'Ilmuwan' Des

Sempat Nyaris Punah, Gamelan Madurejo Bangkit Lagi: Anak Muda Mulai Tertarik

Sempat Nyaris Punah, Gamelan Madurejo Bangkit Lagi: Anak Muda Mulai Tertarik

Seni gamelan di Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman yang sempat nyaris punah pada 2024, kini kembali bangkit. Berkat inisiatif Desa Budaya, enam sanggar karawitan kini aktif berlatih rutin setiap pekan dengan..

Kukuhan DPAC PKB se-Kabupaten Sleman, Perempuan dan Anak Muda Kunci Perolehan Suara Pemilu 2029

Kukuhan DPAC PKB se-Kabupaten Sleman, Perempuan dan Anak Muda Kunci Perolehan Suara Pemilu 2029

Pengukuhan DPAC PKB se-Kabupaten Sleman, Perempuan dan Anak Muda Kunci Perolehan Suara Pemilu 2029

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer