Sempat Nyaris Punah, Gamelan Madurejo Bangkit Lagi: Anak Muda Mulai Tertarik

SLEMAN - Seni gamelan di Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman yang sempat nyaris punah pada 2024, kini kembali bangkit. Berkat inisiatif Desa Budaya, enam sanggar karawitan kini aktif berlatih rutin setiap pekan dengan melibatkan warga lintas usia, termasuk anak muda.
Carik Madurejo Hartoto Wahyudi menjelaskan, sekitar dua tahun lalu atau pada 2024, seni gamelan di Madurejo hampir punah. Sembilan perangkat gamelan yang tersebar di wilayahnya tergolong usang dan tak terawat karena tidak pernah difungsikan. Padahal, konon di wilayahnya memiliki kelompok pengrawit dan gamelan dengan usia cukup tua.
“Saat itu hanya ada satu kelompok karawitan bernama Madularas yang masih menabuhnya. Itu pun tak berlangsung rutin dan mayoritas anggotanya berusia lanjut usia di atas 70 tahun,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Antisipasi Karhutla dan Arahan Pemprov Jateng, Jalur Pendakian Gunung Andong Ditutup
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan bersama karena ada potensi kelestarian kelompok seni karawitan di Kalurahan Madurejo terputus.
"Itu menjadi permasalahan setiap kalurahan, bahkan secara nasional karena surutnya kegemaran masyarakat, khususnya anak muda terhadap budaya gamelan," ujarnya.
Berangkat dari keresehan tersebut, pengurus Desa Budaya Kalurahan Madurejo kemudian menginisiasi dengan menghidupkan kembali kelompok-kelompok karawitan di setiap dusun. Perjuangan itu dimulai pada 2024 dengan pembuatan program pelatihan yang menyasar anak usia dini hingga dewasa.
Pembentukan sanggar baru difokuskan ke dusun yang sebelumnya telah memiliki seperangkat gamelan, tetapi mangkrak. Saat itu terbentuk sebelas sanggar baru yang anggotanya terdiri dari beragam latar belakang.
"Karena kesibukan dan konsistensi yang kurang, dari sebelas sanggar itu mulai terseleksi alam jadi enam sanggar yang bertahan," jelasnya.
Enam sanggar itu adalah Sanggar Seni Puspa Laras dari Dusun Kembang, Jodhipati dari Kebondalem, Ngudhi Laras dari Gangsiran, Sekar Jagad dari Mutihan, Yoga Madularas dari Majasem, dan Jagad Dhita dari Macanan. Enam sanggar tersebut beranggotakan warga masing-masing dusun yang berisi sekitar 15 hingga 20 orang dengan latar belakang beragam.
Mulai dari pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, sampai pelajar. Lahirnya kelompok baru ini menjadikan tabuh gamelan di Kalurahan Madurejo rutin terdengar setiap satu pekan sekali.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




