RADAR JOGJA- Candi Prambanan tidak hanya dikenal karena megahnya arsitektur Hindu dari abad ke-9 dan keindahan reliefnya, tetapi juga karena kisah-kisah legenda dan mitos yang menyertainya.
Salah satu mitos yang cukup populer di kalangan masyarakat, terutama di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, adalah tentang pasangan yang belum menikah dikatakan bahwa kunjungan ke Candi Prambanan dapat membawa petaka pada hubungan mereka.
Mitos ini berawal dari legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Menurut cerita, Bandung Bondowoso sangat mencintai Roro Jonggrang dan ingin menjadikannya istri.
Roro Jonggrang, dengan licik memberikan syarat yang tampaknya mustahil baginya membangun seribu candi dalam satu malam.
Ketika hampir selesai, Roro Jonggrang mengelabui dengan menyalakan api dan membikin ayam berkokok lebih awal, sehingga jin-jin yang membantunya mengira pagi telah tiba.
Proyek gagal selesai sempurna, dan Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca di Candi Prambanan.
Dari cerita itu kemudian berkembang kepercayaan bahwa kutukan atau efek tragis dalam kisah tersebut bisa “menular” ke pasangan-pasangan yang belum menikah yang datang ke tempat itu.
Mitos lain yang beredar menyebutkan adanya larangan bagi pasangan yang belum menikah untuk datang ke Candi Prambanan bersama-sama.
Konon, mereka yang melanggar kepercayaan ini akan mengalami pertengkaran yang berujung pada perpisahan.
Mitos ini semakin mengakar karena banyak cerita dari wisatawan yang mengaku mengalami pertengkaran hebat setelah mengunjungi candi.
Walaupun hanya sekadar kepercayaan, mitos ini masih dipercaya oleh sebagian orang hingga sekarang.
Ada kepercayaan bahwa pasangan belum menikah sebaiknya tidak memasuki kompleks candi bersama, karena itu dikhawatirkan akan memicu pertengkaran dan akhirnya perpisahan.
Beberapa guide lokal menyebutkan bahwa mitos ini juga diperkuat oleh cerita-cerita di masa lampau, termasuk catatan Belanda (Bruman) yang menyebutkan bahwa beberapa pasangan yang berdoa di patung Roro Jonggrang berharap menikah kemudian gagal atau hubungan mereka rusak setelahnya.
Banyak orang setempat yang tetap percaya mitos ini, meskipun tidak ada bukti ilmiah konkret yang menunjukkan bahwa kunjungan ke Candi Prambanan benar-benar menyebabkan putusnya hubungan.
Beberapa pengunjung sendiri merasa “awas” bila datang bersama pasangan, karena cerita-cerita yang sudah sangat tersebar.
Ada juga yang menganggap mitos ini sebagai hiburan atau bagian dari budaya lisan dan tradisi setempat.
Meskipun tak ada bukti ilmiah bahwa mitos ini benar, kepercayaan terhadap mitos pasangan belum menikah di Candi Prambanan menunjukkan bagaimana legenda, budaya lisan, dan pengalaman lokal dapat memengaruhi cara orang melihat sebuah tempat.
Mitos ini telah menjadi bagian dari daya tarik budaya baik sebagai peringatan, cerita mistis, maupun bahan diskusi antar pengunjung.
Penulis :Adella Haviza
Editor : Bahana.