RADAR JOGJA - Bagi umat Islam di seluruh dunia, peristiwa Isra Mikraj merupakan momen spiritual yang menandai perjalanan Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu.
Biasanya, peringatan ini diisi dengan pengajian umum atau doa bersama di masjid-masjid.
Di Keraton Yogyakarta, peristiwa Isra Miraj diperingati dengan cara yang istimewa melalui tradisi Yasa Peksi Burak.
Ini bukan sekadar upacara seremonial, melainkan sebuah tradisi yang menyimbolkan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW melalui sebuah perpaduan nilai keislaman dengan kearifan lokal Jawa.
Filosofi dan Makna dibalik Yasa Peksi Burak
Dilansir dari laman resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yasa Peksi Burak adalah tradisi peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta secara rutin setiap bulan Rajab dalam kalender Jawa.
Istilah Yasa Peksi Burak terdiri dari istilah Yasa yang berarti membuat, Peksi yang berarti burung, dan Burak yang merupakan makhluk yang menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW saat peristiwa perjalanan Isra miraj.
Dalam tradisi Yasa Peksi Burak ini, Peksi Burak dibuat sebagai simbolisasi dari kendaraan yang menemani Nabi Muhammad SAW naik ke langit.
Peksi Burak dibuat dengan kulit jeruk bali yang dikupas dan dirangkai sedemikian rupa hingga menyerupai burung buraq, mulai dari kepala, leher, badan, hingga sayapnya.
Rangkaian Prosesi Yasa Peksi Burak
Rangkaian upacara Yasa Peksi Burak terdiri dari tiga bagian utama, yang dimulai dari pembuatan miniatur Peksi Burak, kemudian dilanjutkan arak-arakan menuju Masjid Gedhe, kemudian ditutup dengan pengajian di Kagungan Dalem Masjid Gedhe.
Sesi pertama dimulai pada pagi hari di Bangsal Sekar Kedhaton, Putri-putri Keraton Yogyakarta merangkai pohon buah dan mengupas kulit jeruk bali untuk dibuat sebagai miniatur burung Peksi Burak.
Miniatur ini ini dibuat secara sepasang, jantan dan betina.
Miniatur ini kemudian diletakkan (bertengger) di atas pohon buah buatan yang disusun dari kerangka bambu setinggi satu meter, yang dipenuhi dengan rangkaian tujuh hingga delapan jenis buah-buahan seperti pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, apel, sawo, dan salak, serta untaian tebu.
Sesi kedua, menjelang sore, hasil rangkaian Peksi Burak tersebut diserahkan kepada Abdi Dalem Kanca Kaji dan Suranata.
Untuk didoakan terlebih dahulu sebelum dibawa keluar keraton.
Kemudian dilanjutkan arak-arakan yang bergerak keluar dari area Kedhaton menuju Masjid Gedhe.
Rombongan ini dikawal oleh Kanca Abrit, Abdi Dalem Kanca Kaji, dan Suranata.
Sesi ketiga puncak peringatan digelar pada malam hari di Serambi Masjid Gedhe, di mana Abdi Dalem Pengulon membacakan risalah Isra Mikraj.
Pembacaan riwayat perjalanan Nabi dalam bahasa Jawa ini diawali dengan lantunan Surat Al-Isra ayat 1. (Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva