RADAR JOGJA - Jika kita berbicara mengenai predator langit, elang adalah puncaknya dalam piramida makanan.
Dibekali dengan banyak keunggulan dalam berburu seperti kecepatan dalam terbang, penglihatan tajam, serta cengkeraman kuat dari cakarnya membuat kemampuannya dalam berburu cukup lengkap.
Namun, dibalik ganasnya raja langit ini ada fase dimana ia akan dihadapkan pada dua pilihan sulit menyangkut hidupnya.
Seiring waktu, paruh, cakar, dan bulu sayap burung elang liar terus tumbuh.
Hal itu membuatnya tidak cukup efisien untuk berburu mangsa.
Mendekati fase ini, ia harus memilih antara melanjutkan hidupnya atau menunggu kematian.
Pada usia sekitar 40 tahun, kondisi pertumbuhan anggota tubuh elang yang melebihi batas mengharuskan ia terbang ke tebing tertinggi yang bisa ia gapai.
Di sana, ia akan membangun sarang serta menyendiri. Dan secara terpaksa, ia akan mematahkan paruhnya, mencabut bulu sayapnya, serta mencabut cakar - cakarnya.
Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan anggota tubuh yang baru.
Fase ini dijalani selama sekitar 150 hari, hingga ia pulih sepenuhnya dan melanjutkan hidupnya sebagai predator pemangsa.
Membayangkan rasa sakit yang dialami burung elang selama 150 hari itu menjadi gambaran tentang cerminan hidup.
Terkadang, kita harus memilih untuk mengorbankan suatu hal demi kelangsungan masa depan kita sendiri. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva