JAKARTA - Dalam laga yang mempertemukan PSIM Jogja melawan Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (28/11) malam berubah menjadi panggung pesta akbar perayaan ulang tahun ke-97 tim berjuluk Macan Kemayoran. Dalam laga itu, The Jakmania, kelompok suporter setia Persija Jakarta kembali membuktikan kreativitas tanpa batas dengan menyajikan koreografi yang artistik dan penuh makna sejarah.
Di bawah sorot lampu stadion yang ikonik, The Jakmania menampilkan dua koreografi yang spektakuler. Koreografi itu dipersembahkan untuk tim kesayangan mereka.
Koreografi pertama yang ditampilkan oleh The Jakmania adalah gambar Presiden Pertama RI Ir Soekarno yang berdiri gagah. Di sisi kanan dan kirinya, Sang Proklamator didampingi oleh legenda Betawi, Si Pitung, dan maskot kebanggaan Macan Kemayoran. Visual ini seolah menegaskan identitas Persija sebagai klub yang lahir dan besar bersama sejarah Jakarta dan Indonesia.
Tak berhenti di sana, koreografi kedua menampilkan visual Maskot Macan yang sedang memeluk dan membawa deretan piala. Ini simbolisasi perjalanan panjang 97 tahun Persija Jakarta yang bertabur prestasi trofi juara dari masa ke masa sebagai bukti dominasi mereka di kancah sepak bola nasional.
Tak hanya menampilkan berbagai koreografi yang menarik, laga antara Laskar Mataram melawan Persija Jakarta juga mencatatkan angka kehadiran yang fantastis, yakni 50.000 penonton. Namun yang membuat malam itu semakin spesial adalah hangatnya persaudaraan antarsuporter.
Lima ribu Brajamusti, suporter setia PSIM Jogja turut hadir memadati tribun, membaur dalam harmoni bersama The Jakmania. Kehadiran suporter tamu dari Jogjakarta ini tentu menambah semarak pesta perayaan HUT ke-97 Persija Jakarta. Sekaligus membuktikan bahwa rivalitas hanya terjadi selama 90 menit di atas lapangan, selebihnya adalah persaudaraan yang erat.
Tak hanya itu, perpaduan chants dari The Jakmania dan Brajamusti, ditambah berbagai macam koreografi yang ditampilkan menjadikan perayaan HUT ke-97 Persija Jakarta di SUGBK sebagai salah satu momen paling ikonik di kalender sepak bola Indonesia tahun ini. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita