Jalanan menanjak dan berkelok di wilayah bagian utara Purworejo bukan penghalang bagi Ahmad Baihaqi untuk tetap mengatar paket. Setiap hari dia harus berjalan sendiri, memastikan paket kiriman sampai ke tangan penerima tepat waktu.
Selama musim libur lebaran tidak ada waktu santai bagi Baihaqi. Di saat yang lain kumpul dengan keluarga, dia justru masih berjibaku mengantar kiriman paket.
Menembus perjalanan panjang sampai titik perbatasan antara Purworejo dan Jogja. Semua itu dia lakoni demi memenuhi harapan para pelanggan.
Sejak pagi, pria 23 tahun itu sibuk menata tumpukan ratusan barang yang telah lama dinanti pelanggan. Sekira pukul 09.00 dia bergegas untuk berangkat dengan sepeda motornya yang telah dipenuhi paket.
Seperti biasa, dia akan melalui jalan sempit berbatu dan melewati banyak tanjakan curam. "Bilang capek, ya pasti capek. Apalagi saya area Kaligesing, medan tempurnya beda," katanya kepada Radar Jogja, Rabu (25/3).
Menjadi kurir paket di waktu musim lebaran adalah tantangan terberatnya. Betapa tidak, jika hari biasa dia hanya mendapat tanggung jawab mengantar 80-90 paket. Tapi masa lebaran seperti sekarang kerjaannya menumpuk. Dia dituntut untuk mengantar hingga 230 paket.
Selain medan tak biasa, tak jarang Baihaqi juga harus mengahadapi cuaca yang tak menentu. Derasnya hujan kerap kali membuat motornya tergelincir. Tenaganya juga terkuras ketika terik matahari berada di atas langit Purworejo.
"Pernah antar sampai Desa Donorejo, mungkin itu desa tertinggi di Purworejo. Pernah juga antar di batas Jateng dan Jogja," kata warga Desa Sudorogo, Kecamatan Kaligesing itu.
Baihaqi kini telah menggeluti pekerjaan sebaga pengantar paket selama 1,5 tahun. Meski terbilang baru, banyak cerita berkesan yang telah dia alami. Tak jarang dia juga mendapat cacian karena paket kiriman tidak sesuai harapan pelanggan.
Baca Juga: Deltras FC Resmi Berpisah dengan Widodo Cahyono Putro, Tunjuk Nurul Huda Sebagai Caretaker
Belum lagi, dia juga harus menanggung tagihan ketika pelanggan milih metode pembayaran tunai saat barang diterima. "Wah, kalau maki-maki, sudah kebal. Memang risikonya gitu," bebernya.
Menurut Baihaqi, di balik pekerjaanya ada tanggungjawab besar yang harus diemban. Selain menjaga agar barang tetap aman, kurir juga dituntut disiplin waktu.
Apalagi selama musim lebaran, di mana banyak pelanggan setia menunggu kiriman untuk berbagi kebahagiaan. "Risiko jadi kurir banyak. Setiap hari risiko kecelakan, ketilang polisi sampai kena komplain orang. Tapi tetap saya jalani," ujarnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo