KEBUMEN - Asam garam perpolitikan telah dilewati Zaeni Miftah. Ibarat buah, dia sudah matang tanpa karbitan. Perjalanan panjang ini yang menghantarkannya kelak menjadi orang top kedua di Kebumen.
Pria yang akrab dipanggil Gus Zaeni itu hampir dipastikan melenggang menjadi wakil bupati Kebumen periode 2024-2029. Merujuk pada quick count hasil perolehan suara Pilkada 2024 yang dilakukan oleh timnya. Zaeni bakal mendampingi Lilis Nuryani sebagai bupati Kebumen.
Sejak muda Zaeni konsisten nguri-uri PKB. Dia berjuang menghidupi mesin partai mulai 1999. Sampai akhirnya dia masuk gedung parlemen pada 2009. Karier politik Zaeni mulai mencorong sejak menjabat sebagai legislator. Kemudian dia pun dipercaya sebagai pucuk pimpinan PKB Kebumen. "Saya istiqamah di PKB. Ibaratnya sejak berdirinya partai sampai sekarang," jelas Zaeni, Jumat (29/11/2024).
Di tangan Zaeni, PKB mengalami pasang surut. Pada 2004 PKB berhasil meraih tujuh kursi parlemen. Namun di 2009 justru merosot menjadi empat kursi. Kerja keras Zaeni pada 2014 kemudian membuahkan hasil hingga menghantarkan sembilan kader terbaiknya duduk di kursi parlemen. Prestasi ini terus berlanjut pada 2019. PKB mampu menduduki kursi wakil ketua DPRD Kebumen dengan perolehan sembilan kursi.
Puncaknya, Zaeni mencatatkan sejarah pada Pemilu 2024 sebagai pemenang legislatif di Kebumen. PKB berhasil merebut kursi ketua dewan dengan capaian 11 kursi. Torehan prestasi ini menjadi gerbang awal dirinya melenggang di Pilkada 2024. Zaeni kemudian dipinang Lilis Nuryani untuk maju sebagai calon wakil bupati Kebumen. "Dapat kursi itu kan bunga, buahnya adalah manfaat. Apalah artinya menduduki kursi eksekutif ketika tidak manfaat. Yang penting manfaat buat masyarakat," ucapnya.
Di balik itu semua, Zaeni tenyata menyimpan hobi mengoleksi barang lawasan. Pria berpenampilan sederhana menggandrungi berbagai jenis keris dan sepeda kuno. Koleksinya tersimpan rapi di rumahnya kawasan Desa Depokrejo, Kebumen. "Saya memang dari dulu senang barang kuno. Keris dan sepeda. Keris yang sudah tua betul. Bukan garapan baru," ucapnya.
Bagi Zaeni, berburu barang lawas memiliki kebanggan tersendiri. Dia menganggap koleksi keris atau sepeda kuno bukan sekadar hobi tapi juga komoditas. Walaupun sebetulnya dia mengaku tidak layak disebut komoditas karena barang langka tak ternilai harganya. "Berburu keris sudah tahunan. Sejak 2004 kalau tidak salah. Sekarang ada sekitar 40 bilah. Biasanya itu kan dol tinuku (jual beli) kalau ada yang suka saya beli. Ada yang butuh saya lepas," bebernya.
Selain memiliki nilai seni, merawat sepeda kuno maupun keris menurutnya juga bisa sebagai selingan penghibur di tengah panasnya tensi politik. Zaeni berkomitmen akan terus menjaga tradisi leluhur dengan merawat keris dan barang lawas lainnya. "Ketika mikir politik sedang penat, lihat keris dan sepeda langsung sedikit hilang," lontarnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita