RADAR JOGJA - Pasangan suami-istri Fatori dan Novikasari, warga Padukuhan Purwosari, Sinduadi, Mlati sukses menggeluti bisnis home decor. Selama 2,5 tahun mereka mengembangkan Kaladjiya. Siapa sangka saat ini omzet yang diperoleh tiap bulan mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan sebulan terakhir, penjualannya meningkat hingga dua kali lipat dari target biasanya.
MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja
Seperti halnya pepatah, kesuksesan yang mereka raih tak lepas dari kegagalan. Perempuan yang akrab disapa Novi ini menceritakan, sebelum akhirnya survive mengembangkan home decor, lebih dulu menggeluti usaha pernak-pernik pernikahan.
Tepat saat kegiatan hajatan pernikahan sepi karena pandemi. Sehingga dia harus memutar otak, menciptakan peluang baru. Hingga tercetuslah ide usaha Kaladjiya ini. Yang diambil dari nama anaknya.
"Awalnya hanya vas bunga. Namun sekarang merambah ke art object," kata Novi saat ditemui di art shop-nya, Gang Lombok, Jalan Kaliurang Km 6,5 Padukuhan Purwosari Rabu (1/1).
Dia mengungkapkan, home decor menjadi tren kalangan ibu rumah tangga menegah ke atas. Selain itu, anak muda pun menyukainya karena memiliki nilai keindahan tersendiri. Sebab tidak hanya untuk memperindah ruangan, namun juga menarik perhatian teman untuk swafoto. Bahkan menjadi pilihan untuk pemanis produk jualan.
Ada puluhan desain yang ditawarkan. Semua desainnya pun memiliki nama. Mulai dari yang paling laris di pasaran berupa vas bunga bernama nara dan fuji. Nara ini bentuknya menyerupai sarang tawon vespa. Persediaan 50 stok, hampir ludes terjual. Tersisa beberapa yang dia pajang di galeri shop-nya dan beberapa stok masih berwujud teracota. Belum di-finishing.
Demikian vas jenis fuji, tak kalah laris. Vas ini berbentuk unik. Menyerupai vas pada umumnya. Namun bentuknya sedikit abstrak dan dihiasi garis-garis membentuk sudut 90 derajat. Kedua jenis ini memiliki harga sama. Untuk ukuran tanggung dibanderol Rp 150 ribu per buah.
Kalau secara keseluruhan, harganya berkisar Rp 80 ribuan. Berupa printilan-printilan art object yang juga bisa dimanfaatkan jadi vas. Termahal sekitar Rp 300 ribu, berupa vas setinggi lutut orang dewasa.
"Semua bentuk-bentuk ini saya desain sendiri. Terinspirasi dari Pinterest kemudian saya kembangkan sendiri," ungkap perempuan usia 32 tahun ini.
Dijelaskan, pembuatan home decor ini membutuhkan waktu dua minggu sekali produksi. Mulai dari mendesain, mengolah tanah, mencetaknya, dibakar, dan finishing. Proses pengolahan tanah hingga pembakaran teracota dilakukan di Kasongan, Kasihan, Bantul. Kemudian untuk finishing dan packaging dilakukan oleh suaminya Fatori, 29. "Kalau saya lebih ke manajerial dan quality control," ungkap Novi, alumnus mahasiswa Sastra Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini.
Pewarnaan objek home decor ini khas. Cenderung netral dan soft. Disesuaikan dengan dekorasi rumah gaya minimalis. Seperti Japandi (perpaduan Jepang dan Skandinavia), rumah tipe industrial, rumah indis, hingga gaya Italia.
Tak hanya diminati pasar domestik, produk Kaladjiya juga laku di pasar luar negeri. Meski masih skala kecil dan diminati perorangan, Novi mampu mengirimkan hasil karyanya ke Singapore, Malaysia, hingga Perancis.
Adapun kendala yang dihadapi, jika musim hujan produksi cenderung terhambat. Proses pembuatan teracota menjadi lebih lama. Sehingga bisa ditunda sekitar satu minggu.
Kini usahanya semakin berkembang. Bahkan selama Januari ini, penjualan tembus dua kali lipat dari yang ditargetkan. Yakni, mencapai 300 vas habis terjual. Sehingga total omzet yang diterimanya mencapai Rp 45 juta. Novi pun berharap, usahanya terus maju dan bisa menembus pangsa ekspor lebih luas. (eno) Editor : Editor Content