SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi (2.968 mdpl) di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tetap tinggi pada Senin (9 Maret 2026). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat ratusan kejadian guguran dan awan panas guguran sepanjang periode pengamatan 00.00–24.00 WIB.
Dalam laporan resmi MAGMA-VAR periode tersebut, visual gunung tampak jelas hingga kabut ringan (0-I hingga 0-III). Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal teramati setinggi 15 meter di atas puncak kawah. Cuaca berawan hingga mendung, angin tenang ke arah timur, suhu udara 17–27,4 °C, kelembaban 62–99%, tekanan udara 870,6–916,9 mmHg, dan curah hujan 34 mm/hari.
Kegempaan didominasi:
- Awan Panas Guguran : 3 kali (amplitudo 10–43 mm, durasi 122,26–147,85 detik).
- Guguran: 147 kali (amplitudo 2–52 mm, durasi 26,69–209,69 detik).
- Hybrid/Fase Banyak: 67 kali (amplitudo 2–41 mm, durasi 11,3–59,29 detik).
- Vulkanik Dangkal : 4 kali (amplitudo 3–90 mm, durasi 14,43–23,68 detik).
Teramati 40 kali guguran lava mengarah ke barat daya (Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Status aktivitas Gunung Merapi tetap Level III (Siaga). Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan-barat daya, mencakup:
- Sungai Boyong maksimal 5 km,
- Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km,
- Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Suplai magma masih berlangsung, berpotensi memicu awan panas guguran lebih lanjut.
Rekomendasi BPPTKG:
1. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
2. Waspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
3. Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi.
4. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, tingkat aktivitas akan ditinjau kembali.
Laporan disusun oleh Tri Mujiyanta dan Yulianto, bersumber dari KESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta BPPTKG. Masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten, dan sekitarnya diminta tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin