SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih menunjukkan intensitas yang tinggi. Berdasarkan laporan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), teramati belasan guguran lava pijar yang mengarah ke sektor Barat Daya.
Dalam periode pengamatan Senin (23/2/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, petugas pengamat Gunung Merapi mencatat adanya 19 kali guguran lava.
"Teramati 19 kali guguran lava ke arah Barat Daya, tepatnya ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter (2 km)," tulis laporan resmi dari penyusun laporan BPPTKG, Suratno dan Yulianto.
Kondisi Visual dan Meteorologi
Secara visual, gunung api dengan ketinggian 2968 mdpl ini lebih banyak tertutup kabut (0-I hingga 0-III), sehingga asap kawah tidak teramati dengan jelas dari pos pemantauan.
Kondisi cuaca di sekitar puncak dilaporkan berawan dan mendung dengan angin bertiup tenang ke arah barat, timur, dan utara. Suhu udara berkisar antara 18.3°C hingga 22.44°C dengan kelembaban mencapai 98.9%.
Data Kegempaan yang Signifikan
Selain guguran lava, instrumen BPPTKG juga merekam aktivitas kegempaan yang cukup masif, yang menandakan suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung:
* Gempa Guguran: 118 kali (Amplitudo 2-39 mm, Durasi 33.97-193.52 detik).
* Gempa Hybrid/Fase Banyak: 72 kali (Amplitudo 2-39 mm).
* Gempa Tektonik Jauh: 3 kali.
Tingginya jumlah gempa fase banyak ini memperkuat indikasi bahwa tekanan magma di dalam tubuh gunung masih aktif dan berpotensi memicu munculnya awan panas guguran (APG) sewaktu-waktu.
Baca Juga: Audit di Atas Kertas, BPKP Simpulkan Hibah Pariwisata Sleman Merugikan Keuangan Negara Rp 10 M
Status Siaga (Level III) dan Rekomendasi Bahaya
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih bertahan di Level III (Siaga). BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten:
* Sektor Selatan-Barat Daya: Masyarakat dilarang beraktivitas di alur Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
* Sektor Tenggara: Potensi bahaya di Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
* Ancaman Erupsi Eksplosif: Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
* Waspada Lahar Dingin: Masyarakat diminta waspada terhadap bahaya lahar dingin, terutama saat terjadi hujan di hulu sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
BPPTKG juga menghimbau masyarakat untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah serta BPBD setempat. Data pemantauan akan terus ditinjau kembali jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin