SLEMAN - Kasus leptospirosis di Kabupaten Sleman tahun 2025 ini tercatat 82 kejadian. Sebanyak sembilan di antaranya meninggal dunia. Angka ini jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya sebanyak 28 kasus.
Apabila dilihat dari persebaran wilayahnya paling banyak di Kapanewon Ngemplak dengan 16 kasus dan Depok 13 kasus. Lalu Minggir dan Prambanan masing-masing delapan kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Cahya Purnama menjelaskan, intervensi penyakit ini memang cukup sulit lantaran mesti harus melawan tikus. Penanganannya harus dilakukan secara serentak, termasuk kolaborasi dengan bidang pertanian.
"Kami bergerak ke depan agar tidak menjadi endemis. Harus dibersihkan juga lingkungannya," terang Cahya kepada wartawan dalam jumpa pers yang digelar di Kantor Bupati Sleman, Selasa (28/10).
Menurutnya, lokasi yang rawan tidak hanya berada di wilayah pertanian. Justru di tempat-tempat yang kumuh, termasuk foodcourt. Sebagai langkah antisipasi, sampah yang ada juga jangan dibiarkan terbuka untuk mencegah cepatnya pengembangan populasi.
Di sisi lain, masyarakat harus bisa mengenali tanda-tanda leptospirosis. Misalnya, panas tinggi disertai flu. Lalu ada nyeri betis dan mata memerah. Jika merasakan gejala tersebut, harus segera berobat untuk nantinya bisa mendapatkan antibiotik.
Apabila lebih dari seminggu tidak diobati, maka berpotensi berkembang ke organ lain, seperti ginjal dan jantung. "Kematian itu terjadi karena keterlambatan pengobatan. Perilaku masyarakat yang sering mengobati sendiri itu tolong dicermati betul," tegasnya.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto menyebut, telah melaksanakan gerakan pengendalian tikus. Baik dengan gropyokan, pengumpanan, pengemposan, dan pemanfaatan musuh alami.
"Termasuk dengan melibatkan komunitas sniper seperti yang dilaksanakan di Sendangmulyo, Minggir," tambahnya. (del/laz)