Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada Perbedaan Data Korban MBG di Kapanewon Mlati, Antara Dinkes dan SPPG se-Sleman

Delima Purnamasari • Kamis, 25 September 2025 | 07:00 WIB
Kondisi Puskesmas Mlati 2 yang merawat siswa diduga keracunan MBG (13/8/2025).
Kondisi Puskesmas Mlati 2 yang merawat siswa diduga keracunan MBG (13/8/2025).

 

 

SLEMAN – Data korban keracunan usai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG) di Sleman geseh. Perbedaan itu ditemukan saat audiensi 18 kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) melakukan audiensi dengan Bupati Sleman Harda Kiswaya, Selasa (23/9) malam.

 

Salah satu pokok bahasan dalam kegiatan di Kantor Bupati Sleman ini adalah mengenai komitmen pencegahan keracunan program MBG secara berulang. Tapi dalam pertemuan tersebut pun muncul persoalan terkait data.

 

Saat Kepala SPPG 03 Margodadi Seyegan Muhammad Bogo Prasetyo membeberkan data keracunan MBG sejak program berjalan di Bumi Sembada. Totalnya mencapai 393 orang.

Terdiri dari SPPG Jogotirto sejumlah 137 orang, SPPG Mlati 157 orang, SPPG Cangkringan 38 orang, SPPG Sleman 1 sebanyak 31 orang, dan SPPG Sendangtirto 30 orang. 

 

Ternyata data tersebut berbeda dengan data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman. Menurut Dinkes Sleman, di Kapanewon Mlati total yang terdampak ada empat sekolah. Dengan korban mencapai 379 orang. Itu berdasarkan kejadian keracunan usai mengonsumsi MBG yang terjadi di empat sekolah di Mlati pada 13 Agustus 2025 lalu.

 

Sedang Kepala SPPG Gamping 4 Nogotirto Ahmad Makarim Paramudita menjelaskan,terkait keracunan berulang yang terjadi, dia sebut telah menjadi bahan koordinasi utama dan atensi bersama. Dalam hal ini dia sebut telah dilakukan evaluasi mendalam di internal dapur maupun koordinasi lintas sektor. 

Baca Juga: Wajah Perkotaan Mulai Ditata, Pemkab Gunungkidul Susun RTBL Koridor Wonosari-Gading

"Termasuk dengan pemerintah jadi ke depannya bisa mendorong langkah preventif yang lebih baik," ujarnya ditemui usai audiensi. 

 

Kepala SPPG Margomulyo Seyegan Joni Prasetyo yang turut hadir menegaskan, ada berbagai prosedur yang diterapkan di dapur. Utamanya adalah kualitas bahan baku yang harus baik. Bahan yang sudah datang harus dicuci dengan cairan tertentu untuk membersihkan ulat dan kotoran lain.

 

Sementara untuk persiapan pemasakan dilakukan pukul 19.00 untuk memotong-motong bahan. Lalu pukul 01.00 atau pukul 02.00 mulai pengolahan sebagian bahan baku.  "Menu itu untuk sif pagi didistribusikan jam tujuh dan maksimal dimakan pukul 08.00 atau maksimal 09.00," katanya. 

 Baca Juga: Australia Minta Penjelasan soal Jenazah Byron Haddow yang Meninggal di Bali Dipulangkan Tanpa Jantung

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menghormati inisiatif koordinasi sebagian kepala SPPG ini. Dia sebut hal semacam ini baru pertama kali dilakukan. 

 

Dalam kesempatan ini dia berpesan agar kepala SPPG bisa melakukan kontrol. Termasuk melakukan pengawasan intensif pada bahan baku maupun dalam proses pengolahan.  "Tapi mereka ini tidak diberi kewenangan lebih lanjut. Jadi kalau ada apa-apa nanti akan disampaikan ke pimpinan," katanya.

Editor : Heru Pratomo
#Bupati Sleman #Mbg #dinkes #Data Korban #keracunan #Mlati #SPPG #Harda Kiswaya