Wakil Ketua PMI Kabupaten Sleman Hery Dwikuryanto menjelaskan, kondisi tersebut membuat pihaknya mesti mencari dari daerah lain. Pada titik kritis bahkan mengambil dari Malang dan Surabaya.
Padahal, hal tersebut membutuhkan biaya transportasi tersendiri. Belum lagi persoalan menjaga kualitas darah agar tetap prima.
"Kami tidak boleh menolak kalau ada permintaan. Kekurangan paling banyak itu saat puasa dan akhir tahun," katanya saat ditemui di Kantor PMI Kabupaten Sleman, Minggu (22/6).
Untuk itu PMI Sleman membuat program Tour de PMI. Di sini masyarakat diajak untuk datang ke kantor PMI. Tidak hanya diajak untuk donor darah, tetapi diberikan edukasi mengenai donor darah. Sehingga ada wawasan baru yang diperoleh.
"Kami sasar utamanya pada lembaga pendidikan. Nanti masuk ke lab lihat prosesnya. Kebermanfaatannya juga kami sampaikan," tambahnya.
Mereka yang mendonorkan darahnya juga diberikan berbagai fasilitas. Misalnya, skrining kesehatan untuk memeriksa kolesterol dan asam urat secara gratis.
Selain itu, memperoleh bingkisan dan bisa mendapatkan undian yang berhadiah telepon genggam. Nantinya hadiah ini diundi setiap sebulan sekali.
"Menyumbangkan darah berarti kita menyelamatkan nyawa sesama. Ini tidak bisa PMI sendiri, tapi butuh sukarelawan dari masyarakat," tambah Hery.
Sementara itu, salah satu penggerak donor darah dari Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus Paulus Suryono menyebut, donor darah penting untuk menolong mereka yang membutuhkan. Di gerejanya yang berlokasi di Kapanewon Minggir sendiri rutin melakukan kegiatan donor darah setahun dua kali.
"Pendaftarnya seratus lebih, tapi yang lolos rata-rata 80 orang," katanya. (del)
Editor : Bahana.