Pemandangan itu menjadi puncak upacara adat merti Umbul Bebeng di lereng Merapi.
Sebelumnya, gunungan itu diusung warga dan dikirab mengelilingi desa oleh bregada yang diiringi lantunan alat musik gamelan.
Bupati Sleman Dra Hj. Kustini Sri Purnomo yang hadir pada acara tersebut menuturkan, kirab merti Umbul Bebeng menjadi bukti atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Yang telah memberikan kekayaan dalam bentuk kesuburan tanah dan limpahan air.
Untuk mencukupi segala kehidupan manusia.
"Lewat merti kirab ini semua warga dan perangkat Kalurahan Glagaharjo bisa guyub rukun membangun wilayah," tuturnya.
Kustini berharap, warga lereng Merapi, khususnya di sekitar Umbul Bebeng terus memelihara dan melestarikan sumber air yang ada sebagai sumber kehidupan.
Dikatakan, pelestarian sumber air bisa dilakukan dengan beragam cara. Misalnya penanaman pohon di sekitar sumber air.
Pohon yang ditanam harus dipelihara supaya tumbuh subur.
Sehingga mampu menyerap air lebih banyak.
Selain itu, masyarakat perlu menghemat air. Menggunakan air secara bijak. Seperlunya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan sumber air," katanya.
Lebih lanjut, Kustini juga mengimbau masyarakat melakukan reboisasi di lahan pekarangan yang gundul. Supaya tumbuh hijau kembali.
Sehingga bukan hanya sumber air yang akan terpelihara. Tapi juga bisa menciptakan suasana asri dan udara yang bersih.
Purnomo, 44, warga Glagaharjo, mengungkapkan mata air Umbul Bebeng bukan hanya dimanfaatkan warga Cangkringan, Sleman.
Tapi juga warga di beberapa desa wilayah Klaten.
Seperti Panggang dan Balerante.
"Selain sumber airnya sangat bermanfaat, di sekitar Umbul Bebeng juga telah menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Yakni Bukit Klangon dan Teras Merapi," ujarnya.
Editor : Bahana.