SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman menyebut ada potensi penurunan produksi cabai sebesar 2.281,3 ton dibandingkan tahun lalu.
Penyebabnya, lantaran kondisi cuaca buruk pada tahun ini.
Kepala DP3 Sleman Suparmono mengatakan, pada tahun 2022 produksi cabai di kabupaten Sleman mencapai 11.406,6 ton.
Sementara pada tahun ini diprediksi produksi cabai hanya mampu mencapai 9.125,3 ton atau mengalami penurunan 20 persen.
Pram sapaanya menyebut, anjloknya produksi cabai di Bumi Sembada disebabkan dampak kondisi cuaca. Yakni imbas dari fenomena alam El Nino berupa kemarau panjang.
"Penurunan ini karena adanya perubahan pola tanam," ujar Pram, Kamis (16/11).
Baca Juga: Hanya 23 Pemain yang bisa di Daftarkan, Egy Maulana dan Edo Febriansyah Ditepikan Shin Tae-yong
Dia membeberkan, bahwa sebelum adanya gangguan cuaca produksi cabai di Sleman tergolong cukup stabil di 17 kapanewon.
Beberapa wilayah seperti kapanewon Ngaglik, Pakem, Ngemplak, Turi, Sleman dan Tempel bahkan juga menjadi sentra.
Adapun cabai yang dikembangkan berupa cabai rawit dan jenis cabai keriting.
Bahkan oleh dinas juga telah dilaksanakan program sekolah lapang budidaya cabai agar para petani mampu mengatasi hama dan penyakit tanaman.
Divsamping itu, DP3 Sleman juga mengoptimalkan kehadiran pasar lelang dan rumah titik kumpul cabai.
Baca Juga: Resmikan Paulo Henrique, Persebaya Surabaya Pastikan Bomber Samba Bukan Rekrutan Terakhir
Sehingga para petani tetap bisa menjual hasil panennya kepada pembeli dengan harga optimal.
"Rata-rata produksi lahan cabai sekitar 300 hektar," terang Pram.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menyampaikan, harga cabai yang meroket hingga Rp. 80 ribu per kilogram disebabkan karena tingginya permintaan. Namun ketersediaan di pasar-pasar cukup minim.
Dia pun menyebut, faktor musim kemarau panjang menjadi salah satu penyebab komoditas cabai cukup langka. Sebab berdampak pada kualitas hasil panenan.
"Sebenarnya pasokan aman, tapi karena banyak cabai yang rusak jadi tidak maksimal ketika dijual," ungkap Mae. (inu)
Editor : Bahana.