Pemantauan Gunung Merapi Jogja-Jateng: 13 Guguran Lava Terdeteksi Siang Ini

SLEMAN - Puncak Gunung Merapi berdiri gagah menembus cakrawala di batas Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di balik ketenangan visualnya yang megah, raksasa terkemuka ini sebenarnya menyimpan gejolak yang tak pernah benar-benar tertidur.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, kondisi Merapi sepanjang Rabu siang terus menunjukkan dinamika yang intens. Alam tampak tenang dari kejauhan, namun getaran di perut bumi bercerita lain.
Cuaca di sekitar kawasan puncak sempat berubah-ubah, mulai dari cerah, berawan, hingga diselimuti mendung. Angin berembus perlahan membawa hembusan udara sejuk dengan suhu berkisar antara 23 hingga 23,7 derajat Celsius.
Dari pengamatan visual, puncak gunung sempat terlihat sangat jelas sebelum akhirnya tertutup kabut tipis hingga tebal. Asap kawah berwarna putih kelabu tampak membubung pelan setinggi 200 meter menembus udara bebas.
Tekanan asap yang tebal namun lemah tersebut menandakan adanya pelepasan gas vulkanik secara terus-menerus dari rongga kawah. Fenomena alam ini menjadi pengingat nyata bahwa aktivitas vulkanik di dalam tubuh Merapi belum mereda.
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih bertahan kokoh pada Level III atau Siaga. Penetapan tingkat aktivitas ini didasari oleh serangkaian data pemantauan komprehensif yang terus dikumpulkan oleh tim ahli.
Catatan kegempaan yang terekam oleh instrumen BPPTKG dalam durasi enam jam pemantauan menunjukkan pergerakan energi yang konsisten. Denyut getaran bawah tanah terus tercatat dengan frekuensi yang patut diwaspadai.
Petugas mencatat sedikitnya terjadi 13 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 8 milimeter. Durasi dari setiap runtuhan material tersebut tergolong panjang, yakni mencapai 152 detik.
Selain guguran, terekam pula satu kali gempa tremor non-harmonik yang mengindikasikan adanya aliran fluida di bawah permukaan. Amplitudo gelombang ini terukur cukup besar, yakni menyentuh angka 30 milimeter.
Gejolak internal makin nyata saat instrumen mendeteksi 12 kali gempa hibrid atau fase banyak di kedalaman gunung. Gempa jenis ini memiliki kisaran amplitudo yang cukup lebar, dari 2 hingga 33 milimeter.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



