Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gunung Merapi Pagi Ini, Suplai Magma Masih Terjadi, Warga Jogja dan Jateng Diminta Waspada

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
ILUSTRASI: ​Potensi Awan Panas Merapi Sektor Selatan dan Barat Daya, Ini Daftar Sungai Berbahaya.
ILUSTRASI: ​Potensi Awan Panas Merapi Sektor Selatan dan Barat Daya, Ini Daftar Sungai Berbahaya.

Advertisement

 SLEMAN - Suasana tenang di lereng Gunung Merapi pagi ini menyembunyikan geliat energi dahsyat yang tak pernah benar-benar tertidur lelap. Raksasa abu-abu itu terus menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari dalam perut bumi.

​Gunung berapi paling aktif di Indonesia tersebut kembali memunculkan dinamika aktivitas vulkanik yang patut diwaspadai bersama. Warga di sekitar lereng diimbau untuk tidak lengah menghadapi potensi bahaya.

​Berdasarkan catatan resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, aktivitas ini terekam sejak dini hari. Pengamatan berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

Advertisement

​Dalam kurun waktu enam jam pengamatan tersebut, kesunyian malam di puncak Merapi terus diwarnai oleh getaran gempa. Berbagai instrumen pemantau merekam adanya pergerakan material yang cukup intens dari puncak.

​Petugas mencatat gempa guguran terjadi sebanyak 16 kali di atas tubuh gunung. Amplitudo getaran terukur berada di rentang 2 hingga 21 milimeter dengan durasi yang bervariasi.

​Durasi guguran material tersebut tergolong cukup panjang, yakni berlangsung antara 35,15 hingga 188,1 detik. Longsoran batu-batu besar terus terjadi melintasi tebing-tebing curam puncak.

Advertisement

​Tak hanya guguran lava, instrumen seismik juga mendeteksi adanya gempa Hybrid atau fase banyak. Gempa jenis ini terekam sebanyak 11 kali dalam durasi pengamatan yang sama.

​Gempa fase banyak tercatat memiliki amplitudo berkisar antara 2 hingga 28 milimeter dengan durasi 12,9 hingga 62,4 detik. Fenomena ini mengindikasikan adanya tekanan magma yang berusaha mendorong ke permukaan.

​Menurut laporan resmi yang disusun oleh Suraji dan Yulianto dari tim BPPTKG, data pemantauan membuktikan suplai magma masih berlangsung. Dorongan energi dari dalam bumi ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

​Keberadaan suplai magma yang konsisten ini menjadi pemicu utama berlanjutnya ancaman awan panas guguran. Bahaya mematikan itu bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa ada tanda awal yang sangat mencolok.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

SEMA UGM Surati ASEAN soal Karhutla Kalimantan, Desak Indonesia Tetapkan Bencana Nasional

SEMA UGM Surati ASEAN soal Karhutla Kalimantan, Desak Indonesia Tetapkan Bencana Nasional

Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) menyurati Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn untuk mendesak penanganan krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kalimantan. SEMA UGM ...

Rivalitas Hanya 90 Menit, Suporter Persebaya dan PSS Sleman Gelar Bantuan Masker Bencana Asap

Rivalitas Hanya 90 Menit, Suporter Persebaya dan PSS Sleman Gelar Bantuan Masker Bencana Asap

Bonek dan BCS buktikan kemanusiaan di atas rivalitas. Jelang laga Persebaya vs PSS Sleman, suporter menggalang donasi masker untuk korban karhutla. Simak aksi solidaritas luar biasa ini!

Resmi Dilantik Prabowo, Kepala BNPB Kristomei Sianturi Tekankan Respons Cepat Bencana

Resmi Dilantik Prabowo, Kepala BNPB Kristomei Sianturi Tekankan Respons Cepat Bencana

Resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BNPB, Letjen Kristomei Sianturi tekankan kolaborasi dan respons cepat dalam penanganan bencana nasional.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer