Status Merapi Level III Siaga, pada 21 September 2026, Luncurkan Lava ke Kali Krasak dan Kali Bebeng

SLEMAN - Jika kemarin aktivitasnya sempat terlihat sedikit menurun, pada 21 September 2026 Gunung Merapi kembali menunjukkan taringnya. Dalam 24 jam pengamatan penuh, gunung paling aktif di Indonesia ini tidak memberi jeda, dengan puluhan luncuran lava yang kembali menerangi lereng barat dayanya.
Laporan resmi Magma-VAR dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk periode 00.00 hingga 24.00 WIB mengonfirmasi hal itu. Merapi yang menjulang 2.968 meter di atas permukaan laut di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten masih bertahan kokoh di Level III atau Siaga.
Secara visual, kondisi cuaca di puncak justru terlihat bersahabat. Langit cerah dan berawan, angin bertiup tenang ke arah timur, dengan suhu udara 16,2 hingga 28 derajat Celcius. Kelembaban udara 46 hingga 85,9 persen membuat puncak Merapi terlihat jelas dari pos-pos pengamatan.
Keberadaan Merapi yang terlihat jelas ini memungkinkan petugas mencatat hembusan asap kawah dengan lebih akurat. Teramati asap putih bertekanan lemah dengan intensitas tipis, namun tingginya konsisten mencapai 100 meter di atas puncak kawah. Asap yang stabil di angka 100 meter ini menjadi penanda pasokan gas dan tekanan dari dalam masih terjaga.
Data kegempaan menjadi cerita yang paling jujur tentang apa yang terjadi di perut Merapi. Seismograf merekam 68 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 33 mm dan durasi 29 hingga 199 detik. Angka ini naik dari hari sebelumnya, menunjukkan material di kubah lava terus runtuh.
Sementara itu, gempa hybrid atau fase banyak tercatat 59 kejadian. Meski menurun dari 93 kejadian sehari sebelumnya, angka 59 ini masih tergolong sangat tinggi. Gempa hybrid adalah bahasa klasik Merapi bahwa suplai magma dari kedalaman masih terus berlangsung dan mendorong kubah lava yang sudah tidak stabil.
Inilah yang kemudian menjelma menjadi pemandangan paling dramatis hari itu. BPPTKG mencatat sebanyak 34 kali guguran lava teramati dengan mata telanjang. Jumlah ini melonjak tiga kali lipat dibandingkan hari sebelumnya yang hanya 10 kali, sebuah lonjakan yang patut diwaspadai.
Arah luncurannya pun masih sama, ke sektor barat daya. Material pijar itu meluncur menyusuri alur Kali Sat atau Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum bertahan di angka 2.000 meter. Dalam gelapnya malam, alur sungai itu seperti dialiri api yang mengalir perlahan.
Tiga puluh empat kali luncuran dalam sehari bukanlah angka yang bisa dianggap enteng. Ini mengindikasikan kubah lava di barat daya sedang dalam fase pertumbuhan yang sangat aktif, di mana suplai magma yang baru membuat kubah cepat membesar, lalu runtuh oleh gravitasinya sendiri secara beruntun.
Melihat kondisi tersebut, potensi bahaya yang ditetapkan BPPTKG pun belum berubah. Ancaman utama berupa guguran lava dan awan panas masih mengintai sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km dari puncak.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




