PURWOREJO - Kabupaten Purworejo memiliki kekayaan sejarah. Salah satunya dilihat dari jejak historis yang masih membekas sampai sekarang, yakni terkait keberadaan Londo Ireng.
Perjalanan tempo dulu ini kemudian menjadi memori kolektif bagi masyarakat Purworejo.
Menurut beberapa literatur, pasca-Perang Jawa sekitar 1825-1830 Belanda sempat kekurangan serdadu buntut dari adanya peperangan.
Setelah itu pihak Belanda mulai menata ulang kekuatan dengan merekrut sekitar 3.000 orang dari Afrika Barat.
Tepatnya dari wilayah Gold Coast atau sekarang lebih dikenal dengan negara Ghana.
Mereka kemudian bergabung dengan pasukan Belanda, yakni Koninklijk Nederlands-Indisch Leger atau KNIL.
"Mereka didatangkan oleh Belanda. Karena biaya atau gaji lebih murah. Tenaganya lebih kuat," ucap Pegiat Kampung Afrikan Agus Subiyantoro, kepada Radar Jogja, Jumat (14/11/2025).
Menurut buku karya Dra Endri Kusruri berjudul Dinamika Masyarakat Pendatang Dari Afrika Di Purworejo dijelaskan, pasukan orang Afrika terus dikirim ke tanah air secara bertahap. Mulai periode 1831 hingga tahun 1872.
Setibanya di Hindia-Belanda, pasukan disebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk di Purworejo sebagai serdadu kolonial.
Pasukan berkulit hitam ini lalu dilengkapi seragam Belanda. Dari tampilan ini kemudian masyarakat Purworejo menyebut mereka sebagai Londo Ireng.
Maknanya secara harfiah berarti Belanda hitam atau menurut bahasa Belanda, Zwarte Hollanders.
"Kampung Afrikan ini cuma satu RT. Di RT 03, RW 07. Masuknya Kelurahan Pangenjurutengah," kata Agus.
Pemilihan Purworejo sebagai tempat Londo Ireng ini bukan tanpa alasan. Secara letak wilayah, Purworejo dinilai cukup dekat dengan basis pasukan Pangeran Diponegoro. Tepatnya yang berada di perbukitan Menoreh.
Singkat cerita pada 1859, Belanda mencari tanah di Purworejo yang diperuntukkan khusus untuk orang-orang Afrika.
Di lokasi tersebut kemudian dibangun rumah serta dijadikan untuk bercocok tanam. Kompleks tersebut sekarang lebih dikenal sebagai Kampung Afrikan.
Di permukiman ini dulu tercatat ada 32 petak rumah yang dihuni Londo Ireng. Sekarang, sebagian bangunan peninggalan rumah orang Afrika masih terawat dengan baik, sebagian lagi sudah termakan usia.
"Di sini masih wujud bangunan ada 12 unit dari total 32 rumah," bebernya.
Ketua Galeri Kampung Afrikan Widyarsana Garjita menyatakan, di Kelurahan Pangenjurutengah masyarakat yang datang akan disuguhkan jejak peninggalan orang Afrika pada era Hindia-Belanda.
Tak ingin kehilangan sejarah, masyarakat setempat kemudian berinisiatif membuat mini galeri.
Isinya berupa dokumen penting yang menjadi bukti konkret bahwa orang Afrika dulu sempat tinggal di Purworejo.
Selain kerap didatangi masyarakat umum untuk belajar sejarah, Kampung Afrikan juga beberapa kali kedatangan warga asing keturunan asli yang dulu sempat menetap di Pangenjurutengah.
"September kemarin, ada satu famili yang datang. Mereka ingin tahu perjalanan embah-embah-nya dulu," jelasnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita