RADAR JOGJA - Nama Mbah Demang Cokrodikromo mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Modinan, Banyuraden. Sosok legendaris ini menjadi pusat dari tradisi malam 8 Sura yang masih dilestarikan oleh masyarakat hingga kini dengan label "Suran Mbah Demang".
Namun, seperti banyak cerita turun-temurun lainnya, ada berbagai versi dan interpretasi mengenai apa maksud sebenarnya dari tradisi 'Suran Mbah Demang' itu. Juga mengapa tradisinya begitu kuat mengakar di masyarakat.
Dukuh Modinan Hartono menceritakan siapa sebenarnya sosok Mbah Demang di mata masyarakat sekitar. Menurutnya, Mbah Demang merupakan seorang karyawan Pabrik Gula Demak Ijo yang kala itu diangkat menjadi kepala keamanan pabrik. "Itu awal dari cerita Mbah Demang," katanya kepada Radar Jogja saat ditemui di kediamannya, Jumat (4/7).
Sementara tradisi "Suran Mbah Demang" yang hingga kini masih dirayakan oleh 'putra wayah' (keturunan) Mbah Demang dan masyarakat sekitar, menurut Hartono, memiliki dua versi asal-usul. Yang pertama, acara diadakan untuk jamasan pusaka oleh Mbah Demang pada zaman dahulu. Lalu versi kedua, tradisi untuk membuka masa giling di Pabrik Gula Demak Ijo pada saat itu.
"Kemungkinan dua itu, tapi kami tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya. Melihat yang berkembang seperti Pabrik Gula Madukismo itu sebelum masa giling ada upacara namanya cembengan. Kemungkinan tradisi Mbah Demang ini merupakan tradisi dari pabrik gula di Demak Ijo itu," cetusnya.
Selain itu, tradisi "Suran Mbah Demang" diadakan karena dulu diyakini sebagai wujud rasa syukur menjelang musim penggilingan tebu di Pabrik Gula Demak Ijo.
"Dulu katanya Mbah Demang suka membuat kenduri atau sedekah berupa nasi yang mempunyai istilah kendi ijo dan dibagikan ke warga yang berkunjung ke rumah Mbah Demang," ungkapnya.
Mbah Demang di mata pihak Pabrik Gula Demak Ijo pada masanya, merupakan sosok yang sangat dipercaya dan dihormati. Beliau disepuhkan atau dituakan untuk menjaga keamanan pabrik dan perkebunan tebu.
Meski demikian, peninggalan fisik Mbah Demang yang masih dapat ditemui saat ini hanya terbatas pada rumah tabon' dan sumur Mbah Demang. Sumur Mbah Demang ini sering dikunjungi masyarakat luas dengan harapan mencari berkah. "Kalau masyarakat sini sudah biasa dengan sumur itu," kata Hartono.
Ia berharap pelestarian seni dan budaya seperti tradisi Suran Mbah Demang terus dilakukan. Menurutnya, acara itu penting agar masyarakat bisa mengambil manfaat positif dari kisah Mbah Demang, terutama dalam hal kedermawanan.
"Mbah Demang yang suka sedekah itu harus dilestarikan bagaimana seorang pemimpin harus meneladani kedermawanan," bebernya. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita