Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Perang Sarung yang Bergeser, Lahir Menciptakan Keseruan Kini Beralih Jadi Kriminalitas

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 1 Maret 2026 | 10:10 WIB

 Odam Asdi Artosa - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM)
Odam Asdi Artosa - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM)

JOGJA - Tradisi perang sarung yang merupakan permainan tradisional khas lingkungan pondokan atau pesantren, kini mulai bergeser praktiknya. Dulu permainan hanya sekadar untuk mencari hiburan di sela-sela kegiatan keagamaan. Namun kini menjadi "perang" dalam arti sebenarnya. Mengandung kekerasan yang tak jarang menimbulkan korban.


Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Odam Asdi Artosa melihat ada potensi pergeseran konotasi sarung dampak dari tren perang sarung saat ini. Sarung yang dulu dikonotasikan positif dan menjadi simbol tradisi atau budaya santri/pondokan bisa saja berubah menjadi simbol kekerasan.


"Jadi ini ada pergeseran tadi yang awalnya menjadi identitas muslim, identitas santri, itu sekarang tidak lagi menjadi identitas yang saklek," ujarnya saat ditanya Radar Jogja, Jumat (27/2).


Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan budaya pesantren yang kuat. Sarung sejak dulu familier dikenakan oleh para santri, masyarakat muslim bahkan nonmuslim. Sebab, sarung bukan hanya sebagai pakaian ibadah, namun banyak masyarakat yang menggunakannya sehari-hari. "Makanya, sarung ini menjadi simbol identitas kelompok," bebernya.


Karena saking dekatnya sarung dengan budaya di Indonesia, banyak aktivitas yang terinspirasi dari alat (sarung) yang dimodifikasi. Misalnya perang sarung dalam konteks permainan tradisional zaman dulu.


Sarung ditali atau hanya sekadar saling sabet sebagai hiburan semata. Mungkin bisa juga para santri mengadopsi tindakan dari para ustaz atau kiai mereka yang menyabetkan sarung atau sajadah kepada santrinya apabila mereka melakukan kesalahan.


"Anak-anak orang pribumi, khususnya santri itu dulu kalau main ya pakai sarung, pul-pukulan sarung," papar Dosen Jurusan Sosiologi UGM itu.


Permainan yang diartikan sebagai hiburan dan jauh dari kekerasan itu berubah ketika melihat tren kenakalan remaja di era saat ini. Banyak kejahatan jalanan, klithih, tawuran yang bermunculan. Sarung yang tadinya untuk hiburan kini digunakan sebagai senjata yang melukai.


Dalam pandangan Pierre Bourdieu, lanjutnya, perang sarung dapat dilihat sebagai habitus yang berarti kemunculannya dipengaruhi oleh disposisi, kebiasaan, atau cara berpikir dan bertindak yang terinternalisasi dalam diri individu melalui pengalaman hidup dan sosialisasi jangka panjang.
"Pukul-pukulan pakai sarung itu merefleksikan dirinya secara kultural yang itu diwariskan dari tradisi nenek moyangnya. Tapi sekarang yang dipukulkan di dalam sarung itu bukan buntelan sarung itu, tetapi kemudian ada batu dan sebagainya," jelasnya.


Habitus yang dimaksud Odam, sapaannya, adalah tradisi hiburan pukul-pukulan sarung selepas ibadah tarawih atau lainnya yang langgeng dari nenek moyang sampai ke anak-anak sekarang. Namun perang sarung dulu hanya untuk menciptakan keseruan, kini bercampur untuk balas dendam, adu gengsi dan sebagainya. "Jadi itu tidak ada bedanya dengan klithih yang terjadi di jalan itu," tandasnya.


Menurutnya, perang sarung telah bergeser dari permainan ke kriminal. Perang sarung banyak didasari atas eksistensi antarkelompok, kampung, sekolah dan sebagainya. Memberikan sebuah penguatan identitas antarkelompok yang melakukan peperangan itu. "Kemudian diafirmasi dalam bentuk kelompok perang sarung itu. Ini kemudian sifat atau relasi kuasanya menjadi tampak," ucapnya. (oso/laz)

Editor : Herpri Kartun
#oldies #perang sarung #tarawih #Kriminalistas #ramadan