Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada Cawe-Cawe DPD dan Money Politic Sebabkan Dualisme DPC Partai Golkar Kebumen Jelang Musda

Muhammad Hafied • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 00:17 WIB
Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Kebumen berkumpul untuk diskusi persiapan Musyawarah Daerah (Musda).
Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Kebumen berkumpul untuk diskusi persiapan Musyawarah Daerah (Musda).

 

 

 

KEBUMEN - Suhu politik di tataran internal Golkar Kebumen memanas jelang gelaran Musyawarah Daerah (Musda). Kondisi ini buntut munculnya dua poros kandidat calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Kebumen. Yakni, antara kubu Pawit Mandung dan Ratna Yulianti.

Para kader partai berlambang pohon beringin ini sekarang terbelah. Masing-masing kubu sedang menghimpun kekuatan demi kursi pimpinan Golkar Kebumen. Dugaan cawe-cawe petinggi partai hingga indikasi money politic sebelum musda membuat internal partai tidak rampak satu barisan.

"Kami perihatin. Sekarang kader pecah. Internal jadi dua kubu," jelas Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Bonorowo Wibisono Susanto saat ditemui usai konsolidasi pengurus partai, Kamis (14/8).

Wibisono menyatakan, perpecahan antarkader tentu membawa kerugian tersendiri bagi Golkar Kebumen. Dia meminta DPD segera mengambil sikap, agar polemik tidak terus berlarut. Menurutnya, DPD perlu memposisikan diri sebagai juru tengah, bukan justru menjadi pemantik atas polemik yang terjadi.

Wibisono mengatakan, akar masalah atas kisruh di internal ini tidak lepas karena adanya campur tangan petinggi DPD untuk kemenangan kandidat tertentu. Dia berharap segala persoalan yang sedang terjadi dapat terselesaikan sebelum pelaksanaan musda yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Agustus 2025 mendatang.

"Tetap ada intervensi dari luar, dari orang DPD sendiri. Saya yakini itu," ujarnya.

Lebih dari itu, dia pun menyoroti dalam pelaksanaan pra musda ini DPD terkesan sangat tertutup. Dia juga merasakan pengurus di tingkat kecamatan tidak dilibatkan dalam persiapan bergulirnya musda. Hal ini dapat dilihat dalam proses pencalonan ketua tidak melalui mekanisme dan tahapan yang jelas.

"Pandangan kami PK hanya menjadi korban atas kedzaliman DPD. Harusnya PK punya forum tersendiri," ungkapnya.

Sementara itu, PK Golkar Gombong Ahmad Marsudiyanto mengatakan, dualisme di tubuh Golkar Kebumen sudah menjadi keresahan bersama di lingkaran kader. Menurutnya jika ini terus dibiarkan akan memperkeruh situasi internal partai.

"Sudah terkotak-kotak ya. Kami perihatin, perlu ketegasan dari DPD," katanya.

Bagi Marsudiyanto, sosok ketua yang ideal memimpin Golkar Kebumen perlu dilihat dari loyalitas terhadap partai. Selain itu, perlu dipertimbangkan juga dari sisi kapasitas dan kontribusi yang telah diberikan untuk partai.

Dari modal ini diharapkan dapat menjadi kekuatan golkar di Kebumen sebelum menghadapi pemilu 2029. "Kita lihat sekarang sedang terpuruk. Dulu golkar bisa dapat kursi pimpinan, sekarang hilang," katanya. (fid)

Editor : Heru Pratomo
#Money Politic #kebumen #dualisme #cawe cawe #partai golkar #pk #DPC #Musda