Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nikmati Wayang Layaknya Nonton Film dan Kartun

Administrator • Senin, 21 Februari 2022 | 19:04 WIB
SEJAK DINI: Workshop pengenalan wayang gaya Yogyakarta dengan peserta siswa SD dan SMP yang diinisiasi Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan Paguyuban Dalang Sukra Kasih. (KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA)
SEJAK DINI: Workshop pengenalan wayang gaya Yogyakarta dengan peserta siswa SD dan SMP yang diinisiasi Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan Paguyuban Dalang Sukra Kasih. (KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Dinas Kebudayaan DIY berupaya mengenalkan wayang kulit kepada siswa sekolah sejak dini. Itu dilakukan dengan menggelar workshop seni pedalangan bertema Pengenalan Dasar Seni Pedalangan dan Tokoh Wayang Gaya Jogjakarta. Workshop itu dengan mengundang sejumlah siswa SD Negeri Ungaran dan SD Negeri Tukangan Jogjakarta serta dari SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 6 Jogjakarta.

“Setelah adik-adik mengenal wayang akan dapat menikmati saat menontonnya. Nikmati layaknya nonton film dan kartun,” ujar Fani Rickyansyah dari Paguyuban Dalang Sukra Kasih saat workshop yang berlangsung di Balai Bima Dinas Kebudayaan DIY pada Jumat (18/2).

Dalam acara itu Fani bertindak sebagai moderator. Sebagai narasumber Abdi Dalem Punakawan  Kridha Mardawa Keraton NgaJogjakarta Hadiningrat Bayu Aji Nugraha dan Aji Santosa Nugraha (praktisi dalang).

Kepada peserta workshop Bayu mengenalkan soal peraga dalam pagelaran wayang. Peraga itu meliputi dalang, pengrawit atau wiyaga, sinden dan wiraswara. “Sinden adalah untuk suara vokal perempuan. Untuk vokal laki-laki dinamakan wiraswara,” terang Bayu.

Bayu kemudian mengenalkan soal gawang kelir dan gamelan. Soal pertunjukan wayang Bayu menceritakan durasinya semalam suntuk. Dari pukul 21.00 sampai 04.00. Namun dalam workshop ini dipersingkatkan menjadi sekitar 2 hingga 3 jam.

Sedangkan Aji menambahkan benda yang diperlukan dalam pertunjukan wayang meliputi gawangan kelir. Bahannya dari kayu yang diukir. “Bentuknya mirip gawang lapangan bola,” terangnya. Fungsinya untuk membentangkan kain atau layar. Kain itu dinamakan kelir.

Kelir terbagi menjadi tiga. Yakni langit, alam semesta dan siten-siten yang berasal dari bahasa halus siti. “Siti itu tanah. Dalam pedalangan dinamakan siten-siten,” katanya. Ada juga batang pisang. Simbolisnya sebagai tanah atau bumi. “Bahasa Jawanya debok untuk menancapkan wayang,” katanya. Aji juga menerangkan keberadaan blencong. Lampu yang digunakan di atas tempat duduk dalang.

Dalam acara itu juga dikenalkan beberapa tokoh wayang. Di antaranya seperti Prabu Destarata, ayah Kurawa. Kemudian Sengkuni, Gendari dan lainnya.  Selain mendengarkan paparan, peserta workshop sempat bertanya soal perbedaaan wayang gaya Surakarta dengan Jogjakarta. “Wayang gaya Surakarta lebih tinggi dan ramping,” imbuh Bayu. Pertanyaan lain dari peserta soal wayang Dewi Kunti. Usai workshop acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit padat dengan lakon Bima Bothok dengan dalang Ki Bayu Probo Prasopo Aji. (sce/kus/ila) Editor : Administrator
#Dinas Kebudayaan DIY #wayang kulit #wayang