Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dunia Usaha Kecewa terhadap Mayoritas Mahasiswa Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia, Ternyata Ini Penyebabnya

Gunawan RaJa • Jumat, 12 Juli 2024 | 21:42 WIB
Studi banding Universitas Ciputra Surabaya dan DPD PERGUBI Jatim ke Universitas Proklamasi 45 (UP45) Jogja pada Kamis (11/7/2024).
Studi banding Universitas Ciputra Surabaya dan DPD PERGUBI Jatim ke Universitas Proklamasi 45 (UP45) Jogja pada Kamis (11/7/2024).

JOGJA - Dunia usaha sering kecewa dengan para lulusan perguruan tinggi.

Gara-garanya, di antara lulusan kampus tersebut tidak semuanya siap kerja, karena keilmuan yang dimiliki tak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Persatuan Guru Besar Indonesia (Pergubi) Jawa Timur (Jatim) Prof Murpin Josua Sembiring saat melalukan studi banding ke Universitas Proklamasi (UP) 45 (UP45) Jogja pada Kamis (11/7/2024).

Dalam kesempatan itu, kedua kampus sharing tentang berbagai hal mengenai pengelolaan PTS.

Mulai dari isu kontribusi perguruan swasta pada dunia pendidikan.

Bagaimana menghasilkan output yang dibutuhkan oleh negara dengan tolok ukur kelembagaan kampus.

"Hingga berkreasi mencari income-income baru lewat potensi yang ada di luar mahasiswa," kata Murpin.

Mengenai potensi kolaborasi dengan dunia usaha misalnya.

Selama ini seolah-olah sinergitas hanya terjadi ketika pergantian kurikulum.

Yakni sinkronisasi antara program pendidikan (prodi) agar update dengan kebutuhan dunia usaha.

"Karena mereka, lulusan (dari perguruan tinggi) dianggap tidak siap kerja, tidak siap training dan itu (keluar) biaya lagi bagi perusahaan," ujarnya.

Menurutnya program Praktisi Mengajar mendorong kolaborasi aktif pada praktisi dan dosen.

Kolaborasi tersebut untuk meningkatkan wawasan praktis, keterampilan relevan dan motivasi para mahasiswa menghadapi dunai kerja.

"Dan mereka (dunia usaha dan industri) senang, karena kami kombinasikan," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ciputra Surabaya Prof Christina Widhya Utami mengatakan, pertemuan dengan UP45 dalam rangka sharing terhadap pengelolaan perguruan tinggi swasta.

"Sama-sama menyikapi situasi, perubahan teknologi yang signifikan," kata Christina Widhya Utami.

Saling memberikan value agar masing-masing institusi bisa tumbuh dengan baik dalam situasi apapun.

Salah satunya, eksistensi PTS tidak sepenuhnya bergantung pada penerimaan mahasiswa baru.

"Salah satunya menguatkan rekognisi dosen agar menjadi lokomotif untuk membuka center-center bagi institusi," ujarnya.

Kedua, bagaimana agar institusi harus berinvestasi pengembangan sistem agar inovasi menjadi lebih smooth.

Lulusannya cepat beradaptasi dengan teknologi.

"Kami sendiri cukup agresif untuk menangkap kebutuhan pasar," jelasnya.

Diakui jumlah pengangguran sekarang sangat tinggi.

Sekitar 9,9 juta lulusan perguruan tinggi tidak terserap di pasar kerja.

Akhirnya mereka masuk ke dunia non-formal.

Terpisah, Rektor Universitas UP45 Jogja Dr Benedictus Renny See mengatakan, sebagai kampus tua di Jogja, UP45 perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian.

"Memang susah mengubah kultur universitas yang sudah begitu lama, untuk bisa mengubah strategi ke dunia yang sudah baru."

"Perlu penyesuaian," kata Benedictus.

Untuk pengembangan kampus, pihaknya akan menjalin komunikasi dengan pihak ketiga seperti melalui CSR (corporate social responsibility).

"Supaya dapat mengakses (dana CSR), kita juga lalukan pendekatan khusus karena terbatas jumlah tapi yang membutuhkan banyak," ungkapnya.

Dia berharap kunjungan Universitas Ciputra Surabaya ke UP45 Jogja berdampak positif terhadap kedua kampus. (gun)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kampus #pendidikan tinggi #siap kerja #UP45 #Jogja