RADAR JOGJA – Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan kepada Masyarakat (KKN PPM) di dusun Banyumanik, desa Pacarejo, Semanu, Gunung Kidul.
Mahasiswa dari kelompok KKN 11 yang beranggotakan 9 orang ini melakukan program kerja dengan inovasi pertanian sistem baru yang belum pernah dilakukan pada desa.
Dusun Banyumanik sendiri merupakan daerah yang berada pada pegunungan kapur, memiliki dasar tanah yang kering dan memiliki masalah susah air.
Sehingga, warga Dusun Banyumanik biasanya hanya bertani atau berkebun sekali dalam setahun.
Ragam tanaman yang ditanam pun hanya kacang – kacangan, singkong, pisang, dan cabai.
Pekerjaan warga Dusun Banyumanik 48 persen terdiri sebagai petani.
Selain bertani, warga juga banyak yang memiliki hewan ternak sebagai simpanan investasi.
Kelompok tani di dusun Banyumanik juga pernah mengalami masa sulit karena musim kemarau panjang yang mengakibatkan tanaman yang ditanam tidak subur hingga menyebabkan gagal panen.
Oleh karena itu, setelah melihat latar belakang tentang kondisi desa, mahasiswa kelompok 11 KKN PPM UMBY mengupayakan sebuah solusi untuk memecahkan masalah pertanian pada desa.
Baca Juga: KKN PPM UMBY Memperkenalkan Inovasi Pakan Ternak Silase Bagi Warga Dusun Gandu
Mengingat kurangnya lahan dan sulitnya air, mahasiswa kelompok 11 menyalurkan ide pertanian dengan pemanfaatan sistem hidroponik menggunakan metode wick (sumbu).
Metode tersebut tidak memerlukan banyak lahan, tanah yang bagus, dan air banyak.
PH air yang paling bagus juga menggunakan tampungan air hujan.
Hidroponik sendiri merupakan budidaya tanaman tanpa memerlukan tanah sebagai medianya.
Pada program kerja inovasi sistem pertanian pada dusun Banyumanik menggunakan media rockwool.
Rockwool terbuat dari bebatuan, umumnya kombinasi dari batuan basalt, batu kapur, dan batu bara.
Kemudian batuan-batuan tersebut dipanaskan mencapai suhu 1.600 derajat Celcius sehingga meleleh menjadi seperti lava, dalam keadaan mencair ini, batuan tersebut disentrifugal membentuk serat-serat.
Sehingga tekstur yang dihasilkan seperti spons yang memiliki banyak serat.
Hidroponik juga memiliki banyak kelebihan seperti menghemat biaya, menghemat tenaga, menghemat waktu, lebih hemat air, menghasilkan kualitas yang lebih baik dan bersih, serta hemat lahan.
Pada kegiatan KKN kali ini, mahasiswa pertama kali melakukan sosialisasi kepada warga terkait pengenalan media tanam menggunakan sistem hidroponik dengan menggunakan bibit kangkung, selada dan pakcoy memiliki waktu masa pertumbuhan yang cukup singkat kurang lebih hanya satu hingga dua bulan saja sudah siap untuk dipanen.
Pada minggu pertama dilakukan semai bibit pada rockwool yang telah dipotong dengan dimensi ukuran 2,5cm x 2,5cm.
Sebelum bibit ditabur, rockwool dibasahi dengan air terlebih dahulu kemudian diberi lubang menggunakan tusuk gigi, lalu bibit ditabur pada masing – masing lobang.
Satu potongan rockwool hanya akan dimasukan 1 butir bibit saja.
Kemudian pada minggu kedua dilakukan pemindahan bibit ada netpot yang menggunakan sumbu kain flanel sebagai sumber serapan air.
Netpot ditaruh pada inpraboard yang sudah dilubangi.
Kemudian diletakan di atas wadah kotak berisi air dan campuran nutrisi AB mix.
Setelah itu diletakkan di bawah cahaya matahari dan ditambah air sesekali beserta diberi tambahan nutrisi hingga masa siap panen.
Dengan adanya pengetahuan baru bidang pertanian yang dibagikan oleh mahasiswa KKN kelompok 11 kepada warga diharapkan dapat membantu sistem bercocok tanam pada dusun Banyumanik serta membantu kelompok tani dalam melakukan kegiatan bertani, panen, hingga produksi hasil panen yang berkualitas secara mandiri.
Nantinya, sistem tanaman hidroponik bisa dilakukan pada halaman rumah atau kbun tanaman.
Sehingga pasokan sayur masyarakat setempat bisa dihasilkan dari hasil tanam sendiri sebagai stok masakan dalam rumah tangga.
Jika budidaya hidroponik semakin berkembang juga diharapkan masyarakat bisa meneruskan pada tahap pemasaran di pasar setempat, toko sayur, atau dijual melalui warga. (Tifara Annisa)
Editor : Meitika Candra Lantiva