Pemda DIY Berikan Pendampingan Pengelolaan PLTMH di Samigaluh, Kulon Progo

Energi Terbarukan dan Skema Pemberdayaan Masyarakat
Sudah lebih dari satu dekade warga di Kalurahan Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, menikmati fasilitas pembangkit listrik tenaga hidro atau PLTMH. Sejak 2012 lalu, warga di Padukuhan Kedungrong merasakan penerangan listrik secara mandiri. Fasilitasi energi terbarukan itu ternyata tak bisa dilepaskan dari peran dan dukungan Pemda DIY.
Pembangunan PLTMH itu desain maupun pelaksanannya dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY. Setelah dibangun diserahkan pengelolaannya kepada warga. “Fasilitas penyokong utama energi di Kedungrong memiliki sejarah panjang. Itu ini merupakan wujud nyata sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah dengan akademisi,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Anna Rina Herbranti.
Baca Juga: HUT ke-270, Yogyakarta Siapkan 7 Event Unggulan untuk Dongkrak Wisata
Saat masih menjabat kepala Dinas PUPESDM DIY pada minggu ketiga Juli 2026 lalu, Anna mengunjungi Samigaluh.. Dia menceritakan, awal mula PLTMH Kedungrong. Berasal dari kajian dari Tim UGM. Isinya, menyampaikan saluran irigasi di Kalibawang, Kulon Progo, memiliki debit air yang cukup deras. Berpotensi dimanfaatkan untuk energi listrik. Kajian itu selanjutnya diserahkan ke Dinas PUPESDM DIY. Selanjutnya dibuat desain hingga terbangun dua unit PLTMH. “Satu unit dibangun di Kedungrong pada 2012 dan satu lagi di Blumbang,” cerita Anna.
PLTMH Blumbang berada di Kalurahan Banjararum, Kalibawang. Lokasinya ada di kapanewon berbeda. Bertetanga dengan Samigaluh. Sama-sama di wilayah Kulon Progo. Menurut Anna, Pemda DIY tak hanya membangun infrastruktur fisik. Namun juga merancang skema pemberdayaan masyarakat. Selesai dibangun PLTMH Kedungrong akhirnya dihibahkan. Kini sepenuhnya dikelola langsung warga setempat.
Warga bergotong-royong menarik iuran mandiri untuk membiayai perawatan fasilitas tersebut. Dengan diserahkan pengelolaannya ke masyarakat, langkah itu terbukti efektif membangun rasa handarbeni atau memiliki warga. Mereka secara rutin merawat saluran irigasi, termasuk menugaskan warga membersihkan tumpukan sampah yang bisa menghambat jaringan air.
Berbeda dengan di Kedungrong, pengelolaan PLTMH Blumbang masih didampingi Dinas PUPESDM DIY. Ada 120 kepala keluarga (KK) yang dilayani. Menurut Anna, fasilitas tersebut nantinya diserahkan ke masyarakat jika sudah siap secara manajerial.
Baca Juga: Dinas PUPESDM DIY Bangun Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengelolaan Kawasan Rawan Longsor
Meski fasilitas di Kedungrong sudah dihibahkan, Pemda DIY tidak lepas tangan begitu saja. Ketika warga menghadapi permasalahan teknis di luar kapasitas mereka, Dinas PUPESDM DIY tetap hadir memberikan solusi. Anna mengakui, saat mengecek ke lapangan, pihaknya menemukan ada salah satu komponen alat di PLTMH Kedungrong dan Blumbang yang tak berfungsi. Temuan ini langsung ditindaklanjuti untuk segera dicarikan solusinya.
Menyikapi kondisi itu, Anna menginformasikan ada kemungkinan menggandeng Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT), salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY. “Siapa tahu di sana ada ahlinya yang bisa memperbaiki sehingga membantu masyarakat,” lanjut Anna.
Di samping komponen mesin, fluktuasi debit air yang bergantung pada alam menjadi tantangan tersendiri di musim kemarau ini. Anna menyadari, saat debit air menyusut, kemampuan energi listrik yang dihasilkan ikut berkurang. Dampaknya nyala lampu sedikit meredup. Kondisi itu mengharuskan pasokan listrik PLN yang tetap tersambung di rumah warga tetap dibutuhkan. Peran jaringan kelistrikan nasional tersebut sekadar difungsikan sebagai cadangan saja.
Keberhasilan PLTMH Kedungrong ditopang aliran irigasi Kalibawang membuka peluang direplikasikan di wilayah lain. Anna memberikan catatan pembangunan infrastruktur serupa sangat bergantung pada konsistensi pasokan air. Menurut dia, debit airnya harus dicermati. Tak bisa asal memasang PLTMH. “Irigasi Kalibawang debitnya selalu bagus dan airnya terus ada,” terang alumnus Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini.
Baca Juga: Dinas PUPESDM DIY Lakukan Indentifikasi dan Mitigasi di Kawasan Rawan Longsor Perbukitan Menoreh
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini menjelaskan, sebagian warga padukuhan telah menikmati listrik dengan energi terbarukan. Ada sejumlah 53 KK telah menggunakan sumber listrik dari PLTMH. Rini, sapaan akrabnya, menceritakan, pembangunan PLTMH Kedungrong punya sejarah panjang.
Awalnya, warganya masih bergantung lisrik dari suplai PLN. Tapi saat itu sering terjadi pemadaman listrik. Terutama di wilayah kaki Perbukitan Menoreh. “Setiap hujan datang listrik selalu padam. Ini, membuat aktivitas masyarakat terganggu,” ceritanya.
Memasuki 2009, ada mahasiswa KKN dari UGM melakukan riset pemanfaatan potensi lokal berupa aliran Irigasi Induk Kalibawang yang setiap tahun selalu mengalir. Kajiannya terkait pemanfaatan aliran air untuk energi listrik. Tapi masih terbatas memanfaatkan aliran sungai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Sedangkan pemanfaatan listrik hanya untuk penerangan lampu jalan padukuhan. Kajian itu lantas didengar Dinas PUPESDM DIY hingga dibangunlah PLTMH. Mulanya masyarakat bingung dengan PLTMH. Itu lantaran teknologi mikrohidro baru dikenal mereka. “Namun berkat sosialisasi dan manfaat yang diberikan, warga akhirnya mulai memahami maksud energi terbarukan,” kenang Rini. (gas/kus/gp)
Warga Hemat Pengeluaran Bulanan hingga 80 Persen
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini mengenang soal hibah PLTMH yang diserahkan Dinas PUPESDM DIY ke masyarakat. Tujuannya, agar warga dapat mengelola dan mengaturnya.
“Tahun 2012 PLTMH Kedungrong resmi dikelola masyarakat secara mandiri Berkat itulah pemanfaatan energi terbarukan menjadi lebih optimal,” cerita Rini, demikian dia biasa disapa kemarin (12/8).
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




